bisnis goodmen

Kebanyakan entreprenuer memulai sebagai karyawan kantoran. Ada yang mendapat wahyu lalu menciptakan persepektif baru, atau terdorong karena cita-cita lama yang terpendam, dan “ngebet” ingin keluar dari rutinitas kerja nine-to-five untuk memulai bisnisnya. Transisi antara keduanya sama-sama memakan waktu, pembelajaran, dan perencanaan yang cermat.

Ini dia cerita awal kata pendiri SeedProd

Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun mengembangkan sebuah produk, tapi tidak juga menghasilkan uang yang cukup untuk menggantikan pekerjaan saya sebagai karyawan. Sampai akhirnya momen yang saya tunggu datang, ketika saya berhasil merilis plugin: page builder “Coming Soon” diluncurkan pada tahun 2011. Perjalanan menuju kesuksesan kecil itu membuat saya sadar tentang sulitnya untuk mencoba menjadi “bos” untuk diri sendiri.

Kalau kamu pikir sudah siap untuk membuat loncatan jauh dan memulai bisnismu, tips di bawah ini perlu kamu renungi sebelum resign dari status karyawan. Transisi dari karyawan menjadi seorang entrepreneur itu tidak selalu mudah, tapi bisa menjadi langkah yang “life-changing.”


1. Dipikir yang mateng dulu sebelum akhirnya keluar

Hal paling pertama yang harus dipertimbangkan adalah, apakah kamu betul harus keluar dari pekerjaan yang sekarang. Beberapa pengusaha ada yang langsung keluar dari kantor, lalu membuat bisnis yang seketika bisa besar. Tapi untuk kebanyakan orang, tidak seperti itu kejadiannya. Butuh waktu dan momentum yang tepat untuk akhirnya memulai bisnisnya.

Survei yang dilakukan oleh Gallup survey, 66% karyawan kantoran tidak sreg dengan pekerjaannya. Jadi ya sangat dimengerti kalau kebanyakan karyawan ingin keluar dari rutinitas 9-to-5 mereka. Beda cerita ketika kamu ingin bergantung untuk memiliki penghasilan tetap, mungkin akhirnya ide bisnis bisa jadi wacana bergulir yang tak kunjung terjadi.


2. Siapkan cadangan uang, alias nabung

Bicara soal “terjun payung” dari penghasilan tetapmu, membutuhkan nyali dan perencanaan ketahanan uang untuk bertahan dalam menghadapi kondisi yang tak pasti. Sebagai seorang entrepreneur sejati, kamu harus mengantisipasi ketidaknyamanan ketika ekspektasi terhadap keuangan sedang tidak sejalan.

So you better save some money!

Paling tidak minimal ketahananmu bisa bertahan sampai 3-4 bulan kedepan. Dan jangan lupa siapkan tabungan terpisah untuk modal bisnismu.


3. Be the King or Jack-of-all-trades?

Pernah merasa bingung tentang sebenarnya keahlian apa sih yang kita punya, “gue jagonya apaan ya?, gue bagusnya ngedalemin profesi apa ya?”

Sadar gak kalau sekolah-sekolah jaman dulu, bahkan sampai sekarang beranggapan semakin banyak mata pelajaran, semakin pintar murid-muridnya. Padahal ketika dewasa, mereka bingung jadi harus pilih jalan karir yang seperti apa.

Jack-of-All-Trades adalah istilah untuk mengetahui dan menguasai dalam banyak hal. Namun justru ini yang keliru, karena dengan begitu kita jadi tidak menguasai satu bidang dengan utuh. Menurut saya, penting untuk membangun karakter King dalam mendalami suatu hal dalam karir atau bisnis, supaya fondasi semakin kuat dan menjadi ahli dibidangnya.


4. Buat pencapaian jangka pendek dan panjang

Selama transisi untuk menjadi entrepreneur, buatlah beberapa pencapaian untuk jangka panjang dan pendek. Miliki pola-pikir atau mindset untuk selalu membuat pencapaian, karena hal itu akan menumbuhkan rasa percaya diri setiap kamu berhasil mencapai pencapaian yang sudah kamu set di awal.

Persiapkan dengan benar dalam satu bulan setelah bisnismu running, kamu ingin memposisikannya seperti apa? lalu satu semester seperti apa? satu tahun, sampai lima tahun kedepan apa yang kamu harapkan dari pengembangan bisnismu.


5. Siapkan mental pejuang. Stres itu wajar

Tekanan akan terasa berbeda dengan saat kamu masih menjadi karyawan, yang biasanya hanya soal deadline kerjaan. Saat menjadi entrepreneur dan memulai bisnis, tekanan finansial, operasional, investasi, perpajakan, dan sebagainya akan kamu rasakan. Dan kamu harus siap mental akan itu.

Bisnis yang baru dimulai dan tumbuh biasanya adalah fase dimana dibutuhkan perhatian khusus terhadap berbagai aspek di perusahaan. Seiring berkembang, tuntutan dan tekanan harus mampu membuat kita selalu termotivasi dan berpikir solutif.

Pada akhirnya, pasti menjadi impian semua pebisnis untuk berada di puncak kesuksesan. Perjuangan menuju kesana bisa dibilang lebih mudah, ketimbang mengelola dan mempertahankan kesuskesan itu sendiri.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen