Dari 6 pertanyaan yang akan dibahas dalam artikel ini, ada satu yang paling menohok. Yaitu, bagaimana kita tahu kalau pasangan yang akan dinikahi adalah orang yang tepat? Dengan tingkat perceraian mendekati 50 persen, ada baiknya untuk refleksi dan secara hati-hati menimbang baik dan buruknya dari menikahi pasangan kita. Tapi, evaluasi apa pun bisa sulit dilakukan kalau sudah begitu banyak hal terjadi di dalam hubungan kita. Terus, bagaimana kita bisa tahu masalah mana yang penting untuk memprediksi keberhasilan hubungan?

Awal tahun ini, Eleanor Stanford dari The New York Times menyusun 13  pertanyaan untuk ditanyakan sebelum berjalan menyusuri lorong pernikahan. Ini mencakup aspek-aspek penting termasuk utang, konflik, dan keluarga. Setiap pasangan akan mendapat manfaat dari pertanyaan-pertanyaan ini sebelum mereka berkomitmen. Untuk membuat daftar pertanyaan yang sangat membantu ini, Stanford berkonsultasi dengan pengacara yang sering menerima kasus perceraian, konsultan pernikahan, dan peneliti.

Simak 6 pertanyaan yang harus dipertimbangkan sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius.

1. Siapa yang akan mencuci baju nantinya?

Kedengarannya sepele ya, tapi ada lho orang yang memiliki pandangan yang sangat kuat tentang tugas rumah yang mereka lakukan. Mungkin kita benci memotong rumput, tetapi tidak keberatan membersihkan jendela; kita suka memasak, tetapi gak tahan saat mencuci pakaian. Apakah kita sudah memperkiran sang pasangan akan melakukan tugas-tugas tertentu? Sudahkah kita menyatakan
harapan ini? Pembagian tugas dan keadilan yang dirasakan adalah prediktor perceraian dalam pasangan yang dua-duanya bekerja (Frisco & Williams, 2003), jadi sebaiknya hal ini perlu diperjelas.

2. Seberapa terobsesinya kamu (pasangan) dengan pekerjaanmu?

Pekerjaan yang berbeda menuntut tingkat komitmen waktu yang  berbeda pula. Beban kerja pasangan mungkin bisa dikelola untuk
satu orang tanpa anak, tetapi gimana cara kerjanya ketika ia nantinya memiliki anak dengan kita? Mengetahui keseimbangan pilihan pasangan antara pekerjaan dan kehidupan rumah sangat penting untuk memprediksi kehidupan pernikahan kita. Pasangan cenderung akan memiliki pernikahan yang lebih memuaskan ketika kehidupan kerja mereka tidak dianggap
mengganggu waktu di rumah (Fellows, Chiu, Hill, & Hawkins, 2015). Dan perlu diingat, keseimbangan yang berfungsi baik untuk satu pasangan belum tentu tepat untuk pasangan lainnya. Jadi, diskusikan hal ini secara matang dengan calon teman hidup kita.

3. Kalau saya mulai berolahraga dan diet, apa yang akan kamu
lakukan?

Untuk beberapa pasangan, perubahan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan yang mengarah pada penurunan berat badan bisa menimbulkan konflik baru (Kluever Romo & Dailey, 2014). Ketika seseorang mengadopsi gaya hidup, pola makan dan olahraga yang baru, sementara yang lain maunya tetap seperti itu, masalah berat badan dan kesehatan bisa menjadi sumber frustasi, dan konflik. Pertimbangkan kebiasaan dan tujuan kesehatan kita dan pasangan. Kalau ada hal yang menurut kita perlu diperjelas biar sama-sama nyambung, bicarakan tentang bagaimana kita dan pasangan bisa mengatasi tantangan itu.

4. Apakah kamu tahu pemicu trauma saya?

Kualitas hubungan yang dewasa ditunjukkan dengan keterbukaan terhadap pengalaman masa lalu satu sama lain. Bisa pengalaman yang berhubungan dengan kepribadian dan history hidup termasuk trauma di masa lalu. Pelecehan yang dulu pernah terjadi, ketika dipicu, bisa meluapkan emosi dan merusak kualitas hubungan (Walker, Holman, &
Busby, 2009). Kalau tiap pasangan saling mengetahui sensitivitas satu  sama lain dan apa pemicunya, mereka akan lebih mampu mengelola interaksi di dalam hubungan.

5. Berapa standar keuangan yang dibutuhkan untuk merasa aman?

Dalam artikelnya, Stanford mengidentifikasi kebiasaan hutang dan pengeluaran sebagai poin penting diskusi, tetapi kebiasaan menabung juga harus didiskusikan. Berapa jumlah yang perlu disimpan agar nantinya kita dan pasangan akan merasa aman? Dari diskusi tentang pertanyaan ini, antar pasangan diharapkan bisa memahami atau setidaknya menyadari sikap masing-masing terhadap tabungan, dan mampu mencapai kesepakatan yang saling memuaskan. Adanya ketidaksepakatan dalam hal keuangan merupakan salah satu prediktor
terkuat dari perceraian (Dew, Britt, & Huston, 2012).

6. Apa yang diharapkan akan berubah ketika sudah menikah?

Seringkali, apa yang orang katakan adalah apa yang benar-benar mereka inginkan. Kalau mereka mengatakan mereka tidak pernah ingin meninggalkan jakarta, misal, mereka mungkin bersungguh-sungguh. Kalau mereka mengatakan mereka hanya ingin memiliki satu anak, ini juga mungkin tidak akan berubah setelah menikah. Berpikir bahwa menikah akan mengubah sikap, keinginan, atau kebiasaan adalah taruhan yang berisiko.

Jadi, dari 6 pertanyaan itu, setidaknya kita berdiskusi dan saling menegosiasikan berbagai hal menyangkut kehidupan pernikahan masa depan. Hmmm, siapa sih yang gak ingin awet dan bahagia terus dengan si dia. Yuk coba mulai kita tanyakan ke kekasih kita.

 

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen