kecerdasan goodmen

Gak sedikit yang beranggapan tanda-tanda kepintaran atau intelejensi/intelektual/kecerdasan otak seseorang, sedikit banyak diakui dengan cocoklogi kata-kata bijak orang terdahulu. Misal, kata bijak dalam versi Indonesia dan Dunia:

“Tong kosong nyaring bunyinya,”
Orang yang banyak bicaranya dan sombong biasanya tidak berilmu. (padahal banyak bicara dalam arti yang sesungguhnya punya banyak makna, katakan memang orang itu suka bicara karena kaya akan informasi).

“The measure of intelligence is the ability to change,”
Kecerdasan seseorang diukur dari kemampuannya merubah situasi. Terlalu ambigu bagi sebagian besar orang untuk melihat kalimat ini dari berbagai sudut pandang. Akibatnya kekuatan kalimat tersebut jadi sayang bin sayang, karena kurang memiliki relevansi dan kedekatan untuk dipraktekan atau diukur.

Jeff Bezos berkata bahwa satu tanda kepintaran seseorang itu dilihat hasrat ia ingin merubah pikirannya dalam banyak hal. Dia secara praktis mencari orang yang berani mengakui kesalahannya, lalu sigap untuk mengganti opininya.

Lagi-lagi, gak ada yang salah dengan kalimat tersebut, tapi rasanya untuk sebagian besar individu “ketinggian” untuk ditelan mentah-mentah. Karena kenapa? ya gampanganya, kalimat tersebut sulit untuk dihitung atau diukur, atau ya baru bisa dipahami kapan harus merubah opini atau pikiran, saat ada sajian data, barang bukti, atau sudut pandang baru di depan mata.

No bingung bingung club no more! Ini tanda-tanda lain yang bisa kamu akui bahwa kecerdasanmu di atas rata-rata…

1. Suka menghabiskan waktu sendirian?

Saat kamu sadar bahwa orang yang suka nongkrong dan bersosial itu lebih bahagia, gak benar kalau menjadikannya semakin intelek. Pakar psikolog mengatakan, dalam contoh tersebut bersosialisasi dengan teman tidak akan menjamin peningkatan kebahagiaan dalam hidupmu.

Dalam sebuah jurnal ilmiah yang terbit di Inggris, dikatakan bahwa para ilmuwan memperhatikan kelompok usia 18-28 tahun dan menemui bahwa semakin sering seorang dengan kecerdasan yang rata-rata bersosial, semakin bahagia dirinya. Hal itu kontras dengan kelompok individu yang suka belajar, mereka cenderung menganggap bersosial (nongkrong) justru sebagai noise, dan berujung ketidak bahagiaan.

Ada satu teori yang aspiratif: Semakin intelek atau pintar seseorang, semakin fokus pula mereka dalam meraih long-term goal.

Jadi kalau kamu adalah tipe yang suka mengerjakan sendir segala sesuatunya, apakah itu tentang proyek, belajar hal baru, bikin business plan, atau memecahkan bagaimana langkah-langkah untuk meraih itu semua, jangan lagi berpikir kamu adalah penyendiri!

You may simply be smarter than the rest of us.

2. Sering beranggapan kalau diri kamu salah?

Udah biasa deh denger para orang yang punya “posisi” baik di sosial atau kantor, biasanya merasa dirinya tahu banyak hal dan cenderung tidak open minded dengan opini kontras atau sudut pandang yang beragam. Simpelnya, mereka tahu yang diucapkannya benar, dan seolah ingin kamu juga “membenarkannya” atau percaya bahwa yang disampaikannya itu benar.

Perilaku individu seperti itu, tidak mencerminkan indikasi seorang yang intelek. Kemiripan indikasi itu merupakan alesan klasik seperti yang diklasifikasikan oleh David Dunning dan Justin Kruger, dalam sebuah istilah yang diberi nama Dunning-Kruger Effect. Sebuah bias kognitif, ketika seseorang yang tidak memiliki kemampuan mengalami superioritas ilusif. Kombinasi antara, kepekaan diri + kognitif yang rendah = boom! your stupidity will arise eventually, with or without surrounds you will notice, eventually!

Intelektual adalah soal mengetahui saat kamu memahami banyak hal, banyak pula hal yang kamu belum ketahui. Sikap individu yang cerdas adalah selalu mencari tahu apa yang benar, ketimbang bersikap benar. Dan juga kecerdasan menyadarkan kamu akan sebuah kesalahan, lalu tetap “tersenyum.”

Kalau kamu adalah orang yang tidak takut untuk salah, mengakui bahwa kamu tidak memiliki semua jawaban, kalau kamu berani untuk bilang “menurut-saya” ketimbang “saya-tahu,” itu tandanya kamu berhak berpikir bahwa kamu lebih pintar dari yang kamu kira selama ini!

3. Sesekali suka nyumpah-serapah?

Hayo! suka keceplosan ngomong ***ing, **i, atau F-words? dalam kalimat ucapanmu?

Kata mutiara yang konvensional beranggapan, bahwa orang yang bersumpah serapah (cuss / cursing) cenderung memiliki kosa-kata yang terbatas; mereka menggunakan ungkapan sumpah serapah sebagai kata sifat dalam kalimatnya karena tidak memiliki alternatif kata untuk menggantinya.

Temuan terbaru mematahkan kata mutiara tersebut! Disimpulkan bahwa kemampuan seseorang dalam mengeluarkan sederet kata taboo bukanlah indeks satu-satunya kelangkaan kosa-kata dalam berbahasa.

Ya singkatnya: seonggok kalimat sumpah serapah itu, hanyalah artikulasi dalam sebuah komunikasi.

Jadi, jangan main asal berasumsi bahwa seseorang itu mutlak tidak intelek hanya karena menggunakan kata sumpah serapah dalam kalimatnya — baik itu kata sifat, kerja, atau benda.

4. Kamu gak bangun terlalu pagi?

Siapa yang suka bangun pagi? Yup, kamu gak sendiri. Bahkan menurut The Wall Street Journal, bangun jam 4 pagi adalah waktu terproduktif dalam sebuah hari.

Tapi lain halnya riset pada tipe “Night owl,” yaitu orang yang lebih waspada dan produktif setelah matahari terbenam. Menurut hasil temuan riset, orang tersebut cenderung memiliki kecerdasan yang lebih tinggi, karir yang baik, dan pendapatan yang tinggi ketimbang “Early riser.”

Fakta ini bukan berarti kamu jadi harus bangun telat supaya jadi orang sukses, atau sebaliknya malah maksain bangun pagi.

Bukan soal bangun pagi atau siang untuk menjadikan kamu sukses. Membuat keputusan yang benar harus bangun saat kamu merasa paling produktif, adalah yang terpenting!

5. Gratifikasi? Tar dulu deh

Sebuah penelitian membuktikan kekuatan dari keterkaitan antara intelenjensi dengan kontrol diri. Dalam studi tersebut, partisipan diminta untuk memilih dua kondisi,

1. Menerima insentif kecil, secara segera; atau
2. Menerima insentif lebih besar pada waktu yang akan datang (nanti).

Partisipan yang memilih untuk menunggu insentif lebih besar cenderung mencetak skor lebih tinggi dalam tes kecerdasan. Jadi kalau kamu sedang berlatih untuk meningkatkan kepekaan akan kontrol diri, berusaha sabar menanti insentif atau hadiah yang lebih besar dari usaha atau investasimu.

6. Suka Nunda Sesuatu?

Pasti kita semua pernah, atau bahkan sering menunda-nunda sesuatu. Tapi bagi sedikit orang berasumsi bahwa menunda sesuatu yang penting itu adalah tanda-tanda kecerdasan seseorang.

Adam Grant, seorang psikolog yang berpendapat bahwa perilaku menunda itu sebagai kunci dari inovasi. Dia berkata bahwa, “Saat Steve Jobs menunda pekerjaan penting dan mencari kemungkinan lain, di saat itulah banyak variasi ide yang terlahir.”

Kesimpulannya, kalau kamu menunda sesuatu hanya karena lagi gak ada hasrat ngelakuinnya, itu adalah salah satu tanda. Tapi kalau kamu menunda sesuatu karena merasa belum menemukan solusi terbaik, jalan yang tepat, atau pilihan terbaik, besar kemungkinan itu adalah langkah tercerdas yang kamu ambil.

7. Kamu gagal dalam tes ini?

Ini dia tes yang mampu menjadi alternatif cepat untuk mengukur indikasi tingkat IQ kamu. Para peneliti di University of Rochester membuat sebuah tes yang mampu menentukan kemampuan otak bawah sadar untuk menyaring pergerakan visual.

Oke, langkah pertama, tonton dulu video ini. Tujuannya satu, deteksi kemana arah garis hitam dan putih, apakah dari kiri ke kanan, atau sebaliknya.

Testing your “Motion Quotient”

Gambar di video ini ditunjukkan dengan ukuran yang berbeda karena, pada umumnya, sulit untuk kebanyakan orang melihat pergerakan (movement) dalam gambar yang besar. Kerja otak kita cenderung untuk menyaring keluar pergerakan pada latar sebuah gambar — karena kalau gak, bayangin aja, kita akan menyaksikan betapa berantakannya dunia ini, dan kepala kita akan pusing hebat seketika.

Maka dari itu, kebanyakan orang akan lebih mudah untuk melihat pergerakan dalam gambar atau obyek yang kecil. Persepsi terhadap gerak akan optimal pada area sebesar jempol, saat tanganmu diperpanjang.

Alasan yang sama juga ketika partisipan mengobservasi obyek yang lebih kecil, orang dengan nilai IQ tinggi lebih cepat menentukan kemana arah garis bergerak. Kenapa? Karena orang dengan nilai IQ tinggi, kerja otaknya cenderung cepat menangkap persepi, dan refleks yang juga cepat.

Sebaliknya, ketika observasi dilakukan pada obyek atau gambar yang lebih besar, yang nilai IQ-nya tinggi malah jelek dalam mendeteksi gerak garisnya.

Tes ini gak bisa juga dijadikan patokan kesempurnaan dari kecerdasan seseorang. Tapi, karena tes ini dibalut dengan metode simpel dan memiliki keterkaitan dengan nilai IQ, malah bisa jadi referensi bukti cara kerja otak yang efisien, dan lebih intelek.

Karena sejatinya, bagi orang sukses, efisiensi adalah kata kunci dari segalanya.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen