Laju pertumbuhan di bidang entrepreneurship (terutama startup berbasis teknologi) terus meningkat di Indonesia. Pada tahun 2018, rasio wirausaha Indonesia sudah naik menjadi 7% lebih dari total penduduk Indonesia. Menteri Koperasi dan UKM Indonesia mengatakan bahwa angka ini sudah di atas standar internasional yang mematok 2%. Pencapaian itu pasti tak lepas dari prinsip dan perilaku entrepreneur dalam menjalankan bisnisnya.

Entrepreneurship yang merupakan jiwa kewirausahaan seseorang dalam tujuan membangun usaha atau bisnis dapat direfleksikan sebagai sebuah bentuk dari kepemimpinan (leadership). Atau dalam interpretasi yang lain, kalau seseorang memiliki nilai leadership yang bagus maka secara otomatis akan menambah kualitas kewirausahaan seorang entrepreneur.

Tanpa kepemimpinan yang baik, maka sebuah usaha akan sulit untuk mengalir dan berkembang. Tidak cuma baik dan bagus dalam memimpin, keefektifan juga sangat diperlukan.

Vishal Agarwal, seorang penulis buku terlaris yaitu Give to Get: A Senior Leader’s Guide to Navigating Corporate Life, telah mempelajari dinamika keberhasilan startup. Menariknya, ia melihat entrepreneur paling sukses sebagai “servant leaders“, yaitu orang dengan tipe kepemimpinan yang melayani perusahaan. Dia juga telah menemukan beberapa prinsip utama yang membedakan pemimpin startup yang sukses dari yang lainnya. Tentunya ini bisa jadi inspirasi yang sangat bernilai untuk kita.


Ini dia prinsip perilaku entrepreneur yang wajib kamu pertimbangkan:

Tidak menyebut diri sendiri dengan kalimat “Saya bos disini!

Semakin kita mencoba untuk mengesankan otoritas yang dimiliki, malah menimbulkan efek yang sebaliknya. Orang menjadi tidak terinspirasi dengan kemampuan kita. Mereka akan lebih menghargai kita karena hasil, tujuan, nilai, dan layanan yang kita berikan.

Jarang berkata, “lakukan dengan caraku!”

Orang-orang yang bekerja dengan kita tidak serta merta ikut karena alasan resume yang brilian, tapi karena mereka percaya dengan KITA dan seberapa baik diri kita melibatkan mereka untuk menjalankan usaha bersama-sama. Mereka perlu tahu kalau kita sadar dengan kehadiran mereka dan merasakan komitmen dan dedikasi dari kita. Pengusaha hebat memiliki dasar empati kepada pekerjanya dan membangun kepercayaan dengan berjuang bersama dan mempererat tim untuk mencapai tujuan yang sama. Mereka menggerakkan timnya untuk “melakukan dengan cara bersama.”

Tidak pilih kasih.

Para entrepreneur melihat, membutuhkan, dan menghargai para pelanggan awal mereka. Sebuah kesalahan fatal terjadi kalau kita menunjukkan terlalu banyak sikap pilih kasih kepada mereka. Daripada melakukan itu, para top entrepreneur lebih memilih untuk menerima tantangan dan membuat perubahan yang diinginkan semua pihak, walaupun berdampak pada risiko yang besar sekalipun (High Risk, High Return).

Perubahan adalah konflik yang tak terhindarkan.

Semua perubahan mendorong konflik. Namun, pengusaha yang efektif tahu bagaimana mempercepat perubahan tanpa menghadirkan konflik yang bersifat destruktif. Mereka memberikan arahan langsung dan jarang berdebat dengan rekan kerjanya. Mereka tahu bahwa biaya konflik cukup besar dan kerusakan yang ditimbulkan akan sulit untuk diatasi. Pengusaha yang efektif lebih memilih mengelola konflik melalui kolaborasi kreatif.

Menghindari menciptakan sistem yang kaku dan memetakan kepentingan.

Pengusaha yang efektif adalah pemimpin diseluruh akar perusahaan. Mereka berpikir dan bersikap untuk seluruh aspek yang bersinggungan dengan perusahaannya, tidak melulu hanya memikirkan usaha pribadinya. Sinergi dan wawasan yang berasal dari pendekatan terintegrasi tersebut akan membuat mereka menambah nilai kreativitas, kolaborasi, dan diferensiasi di pasar. Effective entrepreneurs play the game across the entire board.

Open door Vs. Closed door.

Mereka menyeimbangkan kebijakan “open door” dengan kebijakan “closed door“. Mereka “membuka pintu” untuk menghadapi masalah yang sulit, kompleks, masalah strategis, masukan penting, dan peluang untuk mentoring atau pengembangan. Mereka “menutup pintu” kepada para pembuang waktu. Mereka juga “menutup pintu” untuk berpikir, berhenti sejenak, mempertimbangkan tujuan dan efek jangka panjang.

Action over long-discussion.

Pengusaha atau entreprenuer yang besar membuat perubahan dengan harapan orang lain bertindak seperti yang mereka inginkan. Mereka meminta suatu perubahan perilaku dan kemudian menunjukkannya dalam tindakan mereka. Pengusaha yang efektif tahu bahwa tindakan lebih penting untuk menciptakan hasil yang nyata daripada hanya sekedar berwacana.

Berinovasi melalui kolaborasi.

Seperti yang ditunjukkan oleh sejarawan inovasi, Steven Johnson dalam bukunya, How We Got To Now: Six Innovations That Made the Modern World, semua inovasi yang signifikan adalah hasil proses kolaboratif yang mendalam. Aura “great inventor” atau penemu hebat yang bekerja sendirian itu cuma mitos. Kalau diperhatikan baik-baik, mereka yang terlihat bekerja sendiri sebenarnya memiliki proses kreatif di dalamnya. Sebagai contoh, Thomas Edison sampai membeli 40 paten dari penemu lain di seluruh dunia, lalu mendirikan GE Lab pertama untuk menghubungkan informasi dan merealisasikan kolaborasi besar bernama “discover the light bulb.” Jelas ia tidak bekerja sendirian, melainkan dalam satu kolaborasi besar. Pengusaha yang mementingkan kolaborasi akan lebih kreatif dan menciptakan lebih banyak value. Dengan demikian, kecerdasan dan wawasan mereka juga akan terlipatgandakan.

Orang lain mungkin melihat pengusaha sebagai figur heroik. Padahal, pengusaha yang bagus adalah yang efektif dengan lebih melayani perusahaan, berkolaborasi, dan selalu berlandaskan aksi. Delapan perilaku di atas bisa mulai diterapkan agar kesuksesan yang kita hakiki bisa terasa nikmatnya.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen