9 Strategi Investasi Jangka Panjang

Bagi yang merasa sekarang adalah waktunya untuk mengejar atau menyempurnakan strategi investasi jangka panjang, coba perhatikan kutipan dari Titus Maccius Plautus, penulis naskah drama di Roma abad ke-3 SM.

Dalam segala aspek, memilih jalan tengah merupakan yang terbijak. Semua hal yang bersifat berlebihan atau sebaliknya justru akan membawa masalah dikemudian hari.Titus Maccius Plautus

Thomas Sudyka Jr, Presiden Lawson Kroeker Investment Management di Omaha, Nebraska, mengambil kutipan itu sebagai sumber inspirasi. Sudyka mengatakan bahwa investasi itu seperti dalam sebagian besar aspek kehidupan, membutuhkan keseimbangan.

Keseimbangan juga berfungsi sebagai metafora yang ideal untuk investasi jangka panjang. Kebutuhan berubah dari waktu ke waktu dan strategi cepat pernah digunakan satu tahun kmarin bisa jadi usang, atau bahkan membuat kita mengeluarkan biaya lebih. Pakar investasi pun mempertimbangkan beberapa strategi terbaik yang bisa digunakan sepanjang hidup.


Simak 9 strategi investasi sakti dibawah ini!

1. Investasikan apa yang bisa kita pahami,

Jangan sampai kita bertaruh pada saat kita tidak paham bisnis yang kita investasikan. Apalagi kalau sedang dalam kondisi bertaruh seperti ini, ketidaktahuan adalah hal yang sangat berbahaya. Khawatirnya, nanti kita akan sulit untuk membedakan informasi mana yang berguna dan benar-benar bermanfaat, serta bisa dijadikan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan. Ketidaktahuan tidak pernah membahagiakan ketika bertaruh pada sektor atau perusahaan tertentu dari waktu ke waktu.

2. Mulailah berinvestasi sedini mungkin,

Semakin banyak uang yang diinvestasikan, maka akan semakin berpotensi untuk bertambah. “Investor yang memulai lebih awal, melatih kesabaran dan tetap pada strategi investasi jangka panjang sering mendapatkan hasil terbaik dan kesuksesan finansial,” kata Colton Dillion, Chief Innovations Officer di situs investasi online Acorns. Contohnya, saat kita mulai bekerja di kisaran usia 20 – 30 tahun, tiap tahunnya kita menyisihkan Rp 10.000.000,-/tahun untuk investasi, atau minimal ditabung untuk persiapan pensiun. Hasilnya nantipun akan lebih memuaskan.

3. Mengatur dan mempertahankan cash-flow management yang baik,

“Tidak ada elemen lain dari perencanaan investasi atau manajemen portofolio yang lebih penting dalam jangka panjang,” kata Jesse Mackey, chief investment officer dari 4Thought Financial Group di Syosset, New York. Kuncinya sederhana namun cukup krusial yaitu, menginvestasikan uang selama masa kerja kita, paling tidak setiap bulan. “Cukup mengikuti cash-flow plan, sambil membuat penilaian ulang seiring perubahan kebutuhan, akan menempatkan investor 90 persen menuju pencapaian tujuan mereka.”

4. Pisahkan emosi dari tujuan,

Kalau kita memperlakukan kesempatan investasi layaknya penggeran tim sepak bola yang fanatik, itu sama saja seperti mencari masalah sendiri. Sekali melihat kesempatan investasi, kita langsung excited untuk masuk ke bisnis itu. Lihat kemungkinan investasi lainnya, tertarik lagi. Terus menerus seperti itu akan memberikan hasil yang buruk. “Memisahkan keterlibatan emosional dari tujuan kepemilikan saham akan mengarah pada penilaian dan kinerja yang lebih baik secara keseluruhan,” kata Kenneth Hoffman, managing director dan partner di HighTower’s HSW Advisors di New York City. “Semakin kita berpikiran terbuka tentang investasi di kesempatan baru, semakin besar kemungkinan kita berinvestasi dalam sesuatu yang kurang bernilai.” Jadi, kita perlu memilih-milih investasi apa yang sekiranya cocok dengan kita, dan memiliki hasil yang baik ke depannya. Tidak asal memasukkan saham hanya karena emosi saja padahal tidak mengerti seluk beluk bisnis itu.

5. Ubah pengeluaran bebas menjadi investasi,

Mereka yang menunda investasi selama bertahun-tahun sering bingung membedakan yang mana kebutuhan dan keinginan. “Pengeluaran untuk pulsa dan paket data, TV kabel, dan layanan lainnya otomatis dari semua jenis secara bertahap menjadi kebutuhan, dan para ‘calon investor’ tidak pernah keluar dari situ,” kata Stig Nybo, president of U.S retirement strategy untuk Transamerica Retirement Solutions di San Francisco. Coba selidiki lagi, mungkin ada pengeluaran yang sebenarnya tidak perlu karena bukan kebutuhan. Selain itu, kita bisa memanfaatkan semua layanan untuk mencari pendapatan lainnya, misal memanfaatkan internet dan cashback untuk melakukan penjualan online, dan lain-lain.

6. Masukkan investasi dan cadangan kas dalam ‘kantong’ terpisah,

Risiko terbesar dalam berinvestasi adalah kita membutuhkan uang pada waktu yang salah, kata Harold Evensky, seorang profesor di personal financial planning department di Texas Tech University dan ketua Evensky & Katz / Foldes Financial Wealth Management di Miami. Dengan menyeimbangkan antara investasi dengan pegangan kita sendiri, maka kita tidak perlu menjual investasi, apalagi dengan harga lebih rendah, hanya karena kita membutuhkan uang saat itu.

7. Jadikan saham sebagai landasan strategi,

Zack Shepard, wakil presiden untuk Matson Money di Phoenix, tanpa malu-malu menyebut investasi saham sebagai “salah satu alat untuk menciptakan kekayaan terbesar yang diketahui umat manusia. Investor membutuhkan saham dalam upaya untuk menumbuhkan portofolio mereka dan melampaui inflasi.” Bahkan dengan investasi saham, saat keadaan ekonomi memburuk pun bisa menghasilkan pengembalian yang baik dalam 20 tahun..

8. Diversifikasi untuk perjalanan investasi yang lebih mulus,

Cerita horor banyak investor banyak terjadi pada investor yang terlalu terikat dengan saham tertentu atau investasi lain, kata Jimmy Lee, pendiri dan CEO dari Wealth Consulting Group di Las Vegas. “Diversifikasi kelas aset adalah cara cerdas untuk pergi. Misalnya, ekuitas datang dalam berbagai sensasi ketika menyangkut karakteristik seperti kapitalisasi pasar, arau growth versus value. Meskipun tidak memastikan keuntungan atau perlindungan terhadap kerugian di pasar yang menurun, diversifikasi memberikan potensi untuk jalan investasi yang lebih mulus,” katanya. Jadi, jangan terlalu terikat dengan satu jenis bisnis. Cobalah bisnis lain yang bisa diinvestasikan, ingat untuk mempelajari investasi itu terlebih dahulu.

9. Jangan ragu,

Dalam sejumlah besar contoh, portofolio perlu menyesuaikan waktu daripada merombak total. Iinvestor yang gugup saat siklus pasar sedang menurun biasanya merombak total portofolionya. “Berinvestasi adalah kegiatan jangka panjang, bukan acara olahraga dengan penyesuaian menit demi menit,” kata Dave Rowan, pendiri dan presiden Rowan Financial LLC di Bethlehem, Pennsylvania. “Buatlah penyesuaian kecil dan tidak begitu sering untuk strategi investasi kita daripada mencoba menyesuaikan situasi pasar dari waktu ke waktu”

Itulah 9 strategi investasi yang bisa diterapkan bagi kita yang ingin menuai hasil jangka panjang. Berinvestasi tidak bisa dipandang sebelah mata, keuangan adalah hal yang krusial di hidup kita. Ambil kesempatan sebaik mungkin, pahami terlebih dulu bisnis yang hendak diterjuni, dan pastinya membutuhkan disiplin dan strategi yang baik pula.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen