Cara Asik dalam Argumentasi di Media Sosial

Dalam hasil riset terbaru ditemukan bahwa “cara” kita berinteraksi terutama dalam konteks argumentasi dengan orang lain memiliki pengaruh yang sangat besar. Pengalaman pribadi saya yang mirip dengan pernyataan di atas yaitu ketika adu argumentasi di media sosial. Beberapa kali saya atau teman di Facebook melontarkan pendapat (opini), komplain, atau tautan link terhadap sebuah berita atau polemik di postingan Facebook. Setiap kali itu juga pasti ada orang lain yang ikutan dengan pendapat mereka sendiri.

Tidak jarang mereka menggunakan kata-kata yang negatif bahkan terkadang kasar. Setelah itu teman dan orang lain yang merasa ingin ikutan ke dalam diskusinya langsung seketika ramai dan saut-sautan pakai urat, berujung saling merendahkan dan offside (keluar jalur). Menurut saya ada satu alasan simpel dan logis, yaitu tiap individu itu memang memiliki kecenderungan lebih cepat dan berani untuk merespon pendapat seseorang dalam bentuk tulisan ketimbang bertemu langsung dengan orangnya. Meskipun esensinya sama.

argumentasi sosial media

Di Indonesia sendiri kalau kita cari, banyak sekali screenshot argumentasi di media sosial tentang debat sengit dari pengamat ala-ala sampai pengamat beneran, hingga yang duduk di bangku pemerintahan. Sayangnya terlalu sensitif kalau saya bahas disini sekarang. Lebih baik kita membahas basis studi dari perilaku dan sikap berargumen dan bagaimana menyikapinya di era informasi ini.

Studi ilmiah menguak alasan dibalik reaksi terhadap sebuah argumen

Hasil eksperimen dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh UC Berkely dan University of Chicago. Dalam studinya, sebanyak 300 orang (subyek studi) yang dibacakan, dipertontonkan, atau sekedar diperdengarkan mengenai topik argumen tentang peperangan, tindakan aborsi, kenegaraan, dan kultur musik rap. Setelahnya, para subyek studi diwawancara mengenai respon dan reaksi mereka terhadap opini atau argumentasi yang tidak disetujui.

Reaksi dan respon subyek studi tersebut secara umum persis dengan seseorang yang terlibat dalam diskusi politik. Beberapa argumentator merasa ketika lawan argumennya tidak setuju dengannya, mereka menilai lawannya kurang wawasan dalam pandangannya.

Peneliti studi di atas juga menemukan hasil serupa dari studi yang berbeda. “Salah satu dari kami membacakan kutipan pidato seorang politisi (yang tidak disukainya) di koran,” sebut peneliti yang bernama Juliana Schroeder kepada The Washington Post. Minggu depannya, orang yang membacakan argumen tersebut, mendengar pernyataan politisi tersebut dengan esensi argumen yang sama. Tapi alhasil dia terkejut ketika ternyata dirinya merasa argumen tersebut menjadi cukup masuk akal.

Trik dan cara argumentasi di media sosial

Penelitian memberikan solusi bahwa jalan terbaik untuk “mengadu” argumen adalah dengan melakukannya secara verbal. Namun di era informasi dan naiknya minat interaksi di media sosial, media atau tempat untuk bertukar pikiran jadi ramai di Facebook, Twitter, chatting, email atau yang lainnya.

Orang Rusia mengakomodir disharmoni antara debat langsung vs. tulisan (text) ini dengan memanfaatkan media sosial. Mereka membuat akun Facebook dan Twitter khusus untuk menciptakan gosip atau propaganda di antara orang-orang Amerika.

Ok, pertanyaan pentingnya. Gimana ya cara berargumen yang benar? Untuk memulainya, ketika kamu ingin mengutarakan topik atau isu untuk kepentingan aksi kedepan kamu. Buatlah video pendek atau beri referensi video dari sumber yang tepat, ketimbang kamu menuliskan semua unek-unek. Disaat yang sama, ketika kamu melihat argumentasi dari seseorang dalam bentuk tulisan (text), membacanya justru akan membuat masalah di sudut pandangmu. Cari temen untuk membacakannya bisa jadi alternatif.

Ujung-ujungnya, kalau kedepannya kamu terlibat dalam argumen dengan teman dekat atau saudara di Facebook, Twitter, Instagram, atau media lainnya. Tolong kalau kamu tidak setuju ataupun setuju jangan terbawa suasana untuk terus dan terus membombardir di kolom komen. Tapi ajaklah bertemu dengan ditemani secangkir kopi atau teh hangat. Jangan sampai perbedaan sudut pandang bisa meretakkan esensi hubungan kamu yah!

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen