dario dubois goodmen

Cerita yang terlewatkan oleh banyak orang (termasuk saya) tentang Badut rumput hijau yang terkenal di era 90-an. Dialah Dario Dubois!

Tergokil, ternyeleneh, terabsurd, teridealis, terlukratif dari sisi hiburan bagi pers.

Mungkin kata-kata sifat di atas yang paling tidak menggambarkan sifat seorang Dario Dubois. Pemain centre-back atau bek tengah asal Argentina ini mengawali karir sepakbolanya di liga terbawah Argentina selama satu dekade (10 tahun).

Kehidupan unik sang badut di luar lapangan

Dubois memiliki penampilan yang rocker abis dengan rambut kriting gondrongnya. Bukan kejutan kalau ternyata memang dia menjadi pemain band, dan gilanya dia gak hanya main di satu band, tapi bahkan hingga tiga band sekaligus. Awalnya nama bandnya adalah Dubois Dei, lalu berubah ke Tributo Rock, dan salah satunya lagi bernama Corre Guachin. Aliran musiknya grunge dicampur sentuhan eletronik dari musik tradisional rakyat (folk) Kolombia, atau sering disebut cumbia-istilah gaya musik rakyat jalanan di daerah kumuh Argentina). Coba play video di bawah kalau penasaran seperti apa musiknya terdengar:

Courtesy of Youtube

Apa sih alasan dibalik karakter badut yang dipentaskan?

Suatu saat, sebelum kick-off dimulai dia mengetuk pintu ruangan wasit dan meminta kaca untuk bercermin sambil mengecat wajahnya. Dubois percaya dengan mengecat wajahnya bak tentara saat perang, mampu meningkatkan keberanian dalam dirinya hingga tiga kali lipat! Selain itu juga membuat lawan jadi takut, dan yang pasti meningkatkan perhatian orang kepadanya.

“You paint your face, yo go to war and you kill your rivals”

dario dubois goodmen
Saat Dubois menggunakan cat wajah bak Band rock (KISS)

Banyak intrik yang terjadi setelah ia mulai mengecat wajahnya. Dubois bercerita ia pernah dihentikan oleh direktur klub lawan, dan bilang kalau ia akan mendapatkan bonus kecil kalau membiarkan timnya menang. Sesaat setelahnya, reaksi Dubois adalah meludahi muka direktur tersebut dan bersumpah serapah kepadanya. Gak lama muncul lagi di media bahwa Dubois memanggil direktur tersebut dengan sebutan “a bastard rat.”

Kejadian lain yang juga membekas adalah ketika Dubois bermain bersama Lugano ketika sponsor klub tersebut gagal membayar bonus kemenangan. Aksi protes yang dilayangkan badut lapangan ini yaitu dengan menutupi logo sponsor, dan seluruh badge yang ada di bajunya menggunakan lumpur di lapangan-sebelum pertandingan di mulai.

Saat pertandingan antara Midland dan Excursionistas, Dubois dikeluarkan oleh wasit karena dianggap berperilaku kurang ajar dengan wasit. Ia mengambil kartu kuning (denda bernilai 500 peso) dari kantong wasit, menunjukkan ke arah timnya dan berkata “ini lah harga yang kalian curi dariku, bajingan!”

Aneh ketika harus percaya alasan Dubois menjadi pemain bola profesional

dario dubois goodmen
Dubois telah tampil sebanyak 146 kali selama berkarir

Percaya atau gak, Dubois tidak menyukai sepakbola. Aneh kan! Satu-satunya alasan ia menjadi pemain profesional adalah karena sensasi kompetitif dan mendapatkan waktu rutin untuk latihan. Menjadi pesepakbola ternyeleneh di era 90-an, dia mengklarifikasi bahwa karakter badut lapangan yang dicetuskan bukan karena dia terpengaruh obat-obatan atau alkohol. Kehidupan aslinya tidak begitu menguntungkan. Situasi ekonomi yang kacau, karena hanya mendapatkan pemasukan yang relatif kecil dari bermain bola, bermain band, dan menjual kaos “hippie” di jalanan.

Mario Jardel dan Ljubinko Drulovic adalah dua pemain yang turut meramaikan virus badut lapangan. Mereka mengecat mukanya dengan warna dengan warna biru dan putih sebelum klubnya (Porto) bertanding dalam laga final melawan Estrela Amadora.

Kejadian Maret 2002

Selama pertandingan antara Liniers dan Midland, Dubois terlibat dalam bentrokan dengan suporter dan tim lawan. Akibat kejadian itu, Dubois dilarikan ke rumah sakit dengan luka hebat di kepalanya, dan seketika pertandingan dihentikan. Terlanjur benci dengan ulah Dubois, asosiasi bola Argentina-AFA dan PFA-seolah tidak memedulikan nasibnya paska kejadian tersebut.

I thank these great institutions for not being there when I need themDario Dubois

Dua tahun kemudian, Dubois mengalami cedera ligamen dan harus menjalani operasi rutin, tapi sayangnya ia tidak bisa membayar biayanya. Ia mengajukan ke AFA untuk bantuan, namun mentah-mentah ditolak. Saat itu juga karirnya hancur seketika.

2008 menjadi tahun terakhir bagi Dario Dubois:

Saat sedang bersepeda pulang ke rumah dengan kekasihnya, mereka dibegal perampok. Sepeda, tas, dan handphone-nya diambil dan menembak kaki juga perut Dubois. Ia meninggal dua minggu kemudian pada usianya yang masih muda, 37 tahun.


Pelajaran yang bisa saya petik dari cerita Dubois: Menjadi apapun peran atau karir yang kita tekuni, seberapa nyentrik dan nyeleneh karya kita, dan seberapa jauh kita mendalami peran, tetap harus membawa dampak positif bagi sekitar (lingkungan kantor, bisnis, pertemanan, dan keluarga).

Dubois memberikan warna kelam bagi banyak pelaku di industri sepakbola, menjadi legenda yang tidak kelihatan dan terlupakan. Namun ia mengukir sejarah atas kebebasan berekspresi di sepakbola.

Adios Dubois!

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen