pasangan pernikahan bahagia

Kali ini gue pengen coba share tentang pernikahan. Yang jelas bukan ngajarin atau kasih wejangan, melainkan membagi fakta pergeseran perilaku tentang persepsi pernikahan yang bahagia. Misalnya, apa sih ekspektasi yang mesti kita tempatkan dari sebuah pernikahan?

Ada yang menepis pendapat bahwa pernikahan itu tidak mesti membubuhkan ekspektasi, karena sejatinya yang bahagia itu ketika dua orang dengan kepribadian utuh selalu saling menghargai dan mau berkompromi.

Ada juga yang bilang kalau cinta saat menikah itu unconditional alias, ketika kita menempatkan ekspektasi di atas cinta pada lawan jenis, akan berujung pada kekecewaan dan menyulut sumbu emosi hingga berpotensi untuk saling memecah belah. Makin bingung gak sih jadi kapan harus berani mengambil keputusan untuk menikah? Kok kayaknya ribet amat.

Kalau gue pribadi berpendapat (walaupun baru 3 tahun menikah, dengan 2 anugerah Tuhan yang tak tertandingi setelah nafas dan jodoh), bahwa pernikahan bahagia itu bukan sebuah tujuan, tapi sebuah perjalanan yang terus berjalan dari hari ke hari, masa ke masa. Mungkin kalian punya pendapat masing-masing. Tapi sekarang, coba kita lihat fakta dari zaman ke zaman yang bisa jadi bahan pertimbangan kita tetang persepsi happy marriage.


Balik ke 1939: Laki-laki di mata wanita, yang penting kece dan berpenampilan menarik
tiga orang laki-laki pernikahan bahagia goodmen
Pada masanya laki-laki yang kece lebih penting daripada pinter | source: truclothing.com

Mundur sejenak saat era Perang Dunia ke-2, para pasangan menganggap bahwa kebahagiaan dalam pernikahan baru akan mekar setelah dua tahun. Pasangan di jaman itu percaya bahwa lawan jenis harus memiliki karakter yang kuat dan kecerdasan emosi, adalah dua kunci fundamental dalam menjalankan pernikahan. Keperjakaan dan keperawanan menjadi wajib bagi mereka, dan seorang wanita lebih dipandang ketika memiliki penampilan menarik ketimbang kecerdasannya.

Banyak yang berubah setelah era-perang-itu, dan menurut studi tentang ekpektasi pernikahan di tahun 2013, terjadi pergeseran persepektif yang besar. Pernikahan bukan lagi soal konsitensi dan kenyamanan! Lebih interpersonal dari itu, pasangan lebih membutuhkan support dan pengertian dari sesama lawan jenisnya.

Untungnya ada kumpulan data di Amerika nih yang mencatat pergeseran persepi tentang pernikahan bahagia dari era perang hingga modern.


Nih dia data ringkes pergeseran sudut pandang wanita yang diinginkan dari pernikahan.
diagram persepsi wanita terhadap laki-laki pernikahan bahagia goodmen
Source: theladders.com | Joshua A. Krisch

Data dari diagram di atas, menunjukkan bahwa di tahun 1939, yang terpenting bagi wanita dalam melihat pria adalah tiga hal ini: kedewasaannya, ambisi, dan kestabilan emosinya. Pada perkembangannya inilah pergeseran yang terjadi dan semakin tidak dijadikan prioritas utama:

  • Keperjakaan,
  • Keinginan untuk memiliki rumah / anak,
  • Mampu mengurus rumah dan bisa masak.

Sedangkan yang justru tidak menjadi prioritas awalnya, dari 1939 hingga 2008, inilah hal-hal yang malah menjadi prioritas bagi para wanita dalam melihat pasangannya:

  • Berpenampilan menarik,
  • Kecerdasan dan pengalaman edukasi,
  • Punya rasa ketertarikan dan cinta yang sama besarnya.

Menurut gue, data dan jejak histori di atas relevan juga buat di Indonesia. Terutama kalau merhatiin sekeliling gue di Jakarta, banyak temen perempuan atau semisal lihat di Instagram, yang kalau dilihat cowoknya agak “kurang” tapi emang gayanya keren. Atau ada juga yang emang muka cowoknya “kurang” tapi emang pinter atau punya bisnis mentereng. Kalau temen-temen sebaya (milenial) yang udah menikah memang sudut pandangannya menjadi modern, misalnya paradigma kalau cewek itu gak mesti mengurus rumah doang, atau ketika sampai di porsi ngurus anak, bahwa peran keduanya mesti sama rata.


Lebih dekat melihat data perubahan tingkat keperawanan.
diagram persepsi wanita terhadap laki-laki pernikahan bahagia goodmen
Source: theladders.com | Joshua A. Krisch

Sebagian besar orang Indonesia mungkin akan merespon data ini dengan sikap defensif. Alasannya karena ini data sosial yang sensitif untuk dikaitkan dengan perkembangan di Indonesia sendiri. Well, data di atas menunjukkan bahwa angka wanita yang telah berhubungan intim sebelum menikah, kian meningkat tiap dekadenya. Bahkan, ditunjukkan wanita semakin banyak melakukannya dengan beberapa laki-laki. Hal ini tentu saja berbanding lurus dengan perubahan laki-laki.


2008: Wanita justru menginginkan laki-laki yang “atraktif!”
laki-laki pernikahan bahagia goodmen
source: pexels.com

Sampai akhirnya seorang wanita meng-iyakan lamaran dari seorang pria, data dari studi di tahun 2008 mengatakan bahwa tingkat menarik dari seorang laki-laki secara seksual (luar dan dalam) menjadi salah satu kunci pertimbangan untuk meraih pernikahan yang bahagia.

Nah, kalau kita kaitkan dengan fenomena perilaku yang terjadi di Indonesia, rasanya cocok yah. Artinya, berhubungan intim sebelum menikah sudah menurun kadar taboo-nya ketimbang di era Bokap kita dulu. Wanita di media sosial lebih menunjukkan lekuk tubuh yang seksi, serta kemesraan dengan pasangannya (walaupun belum menikah).


Oke, jadi kita sebagai laki-laki mesti cerdas dan memegang kendali penuh dalam mengikuti pergeseran perilaku sosial


Balik lagi ke soal pernikahan yang bahagia, bahwa evolusi perilaku sosial dan pola pikirnya akan selalu berkembang dan bergeser. Peran kita sebagai laki-laki, intinya adalah mampu menjadi pribadi yang utuh, kuat, dan percaya diri dalam mengambil setiap keputusan, baik saat pra hingga paska menikah.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen