Akhir pekan kemarin, saya sempat baca salah satu artikel menarik yang saya ingin share ke temen-temen netijen. Bagi saya seorang pekerja kreatif, cerita di artikel ini sangat relevan dalam pekerjaan saya. Yaitu sebuah kisah komunikasi yang terjalin antara klien dan pekerja kreatif, dalam hal ini ia adalah seorang artis motion graphics atau sebut saja desainer/pelaku seni grafis.

Apa sih motion graphic?

Menurut penjelasan dari sumber yang terpercaya, motion graphics atau grafis bergerak adalah sebuah aset foto, video, ilustrasi dan/atau tipografi dalam digital yang digabungkan dengan animasi. Tujuan hasil akhirnya adalah untuk menciptakan ilusi dari objek agar bergerak, berotasi, dan menggunakan audio sebagai pendukung untuk menjadi bahan multimedia yang utuh.

Cerita seorang pelaku seni grafis untuk para motion graphic artist di Dunia

Sharing santai dari Bang Deekay Kwon di Negeri Paman Sam. Beliau adalah seorang artis motion graphic yang pernah bekerjasama dengan Google, Buck, and Huge. Beberapa netijen pasti sudah pernah liat animasi yang dibuat beliau untuk Made by Google saat mempersembahkan the Pixel-smartphone besutan Google. Kisah terkini yang ingin disampaikan oleh Bang Deekay Kwon adalah tentang dinamika komunikasinya dengan klien, dimana banyak artis (desainer) mengalami kesulitan yang serupa ketika berhadapan dengan klien “banyak mau.”

Google Display Animation for Pixel 2 | Deekay Kwon

Lahir di Negara Korea-Selatan, berplesir dan merantau mencari ilmu visual dan animasi 3D di kota tanpa tidur a.k.a New York City di School of Virtual Arts. Sayangnya, tidak sempat lulus karena hepeng kurang cukup untuk melanjutkan pendidikannya.

Memberanikan diri untuk langsung bekerja di sebuah studi desain dan bekal tutorial dari internet, Deekay Kwon mampu menghasilkan karya-karyanya menjadi bisnis paruh-waktu selama 7-tahun. Sampai sekarang, ia melanjutkan semangatnya dengan berbagi ilmu di platform media sosial berupa video tutorial (di Youtube).

Sharing berfaedah tentang dinamika “Designers Vs. Clients”

Di artikel tersebut, sang jurnalis The Verge mengajaknya membocorkan cerita tentang: studio desain favoritnya selama ia bekerja, mencari klien melalui Instagram, dan kenapa sekolah seni (re: Art School) itu sebenernya tidak begitu diperlukan.


Menurut lo, pengalaman bekerja dengan sebuah Studio Desain sebelumnya, sangat menolong diri lo menjadi seperti sekarang gak?

DK: Ya jelas. Gue ngerasa belajar banyak ketimbang saat sekolah. Pada dasarnya ya karena hidup dan bekerja di studio desain adalah bekerja yang sesungguhnya (bukan cuma belajar dan ngerjain tugas). Tekanan yang didapet banyak, dan itu yang menjadikan gue semakin baik dan baik dalam berkarya menemui banyak tantangan klien.

Oke, jadi maksudnya berlatarbelakang sekolah seni gak terlalu pengaruh untuk menjadi seorang Freelancer ya? Trus apa yang lo ingin sampein buat orang yang memang lebih pertimbangin sekolah dulu?

DK: Sekolah bukanlah syarat untuk kita bisa belajar animasi. Pengalaman gue setiap pergi sekolah gak pernah berarti, karena gue sibuk menjadi pinjaman untuk melanjutkannya. Menurut gue pribadi, sekolah menjadi tempat pertama gue tau tentang dunia animasi. Dan, buat yang mau belajar animasi, mending pergi ke internet dan melakukannya sendiri ketimbang keluar uang untuk sekolah.

Terus kalau soal tutorial, apa rekomendasi untuk temen-temen desainer lainnya?

DK: Pas pertama kali, gak ada satu spesifik tempat atau situs dimana gue bisa belajar semua tentang teknik yang gue mau. Alhasil mencarinya satu per satu di Google-search untuk mempelajari berbagai teknik. Sekarang sih udah banyak sekali tutorial yang komprehensif seperti School of Motion, atau Video Copilot. Intinya yang paling penting, kita harus punya skill-mencari sebagai Googlers.

Trus-trus, semua postingan di Instagram lo itu karya yang udah pernah dibuat?

DK: Gue bisa bilang 80% nya adalah karya yang gue buat untuk kepentingan pribadi dan 20% nya hasil pekerjaan dari orderan klien.

Yang paling mencolok sepertinya postingan tentang “Designers Vs. Clients” tuh. Apakah itu ditujukan untuk salah satu klien?

DK: Menurut gue itu keseluruhan gambaran selama gue bekerja dengan klien manapun.

Kalau ngomong soal klien, siapa yang menurut lo paling favorit selama ini?

DK: Menurut gue, Buck. Mereka punya SDM animasi dan desainer yang gokil dan terbaik, jadi itu ngebuat gue banyak belajar banyak ketika bekerjasama dengan mereka.

Siapa artis motion graphic yang berkesan selama ini?

DK: Motion Markus. Gue selalu perhatiin dia sejak awal nekunin skill ini. Karyanya sih “sakit!”


Ada saran gak buat para freelancer dan artis motion di luar sana?

DK: Ikutin aja apa yang memang lo sukain. Hal itu yang selalu gue bawa dalam setiap karya gue sampai detik ini. Saat gue di sekolah, GPA atau IPK gue gak tinggi, dan mungkin beberapa orang mengerti bagaimana terlahir bersama kedua orang tua yang berasal dari Korea.

Mereka kepingin banget gue masuk pendidikan super top (Ivy League), dan kenyataannya gue gak pernah ada disana (hehe). Khawatir orang tua udah pasti ada, tapi gue konsisten dan persisten sama apa yang gue suka. Dari situ gue bangga sama diri sendiri bisa berakhir baik-baik saja sampai sekarang.

Menurut pendapat lo, Instagram berpengaruh gak dalam pekerjaan dan mendapatkan klien?

DK: Sejak awal gue mulai upload konten karya-karya gue di IG dan dapet banyak follower, itu yang membuat gue punya kesempatan lebih besar untuk bisa kerja bareng beberapa studio kreatif.

Soal klien, kebanyakan justru datang dari IG, tapi 80% pekerjaan yang dateng bukan seperti biasanya. Misal, ada random Youtubers yang ingin dibuatkan video intro. Yang bikin ini “tidak biasa” adalah mereka tuh gak ngerti berapa biaya yang dibutuhin, mereka mau 15 detik animasi intro hanya untuk beberapa ratus dolar AS, sayang gue akan cuekin tawaran yang seperti itu.

Lebih dari itu, apa yang gue post di IG adalah selera dan gaya gue dalam membuat motion graphic. Jadi klien seperti studi kreatif atau agency biasanya akan memberi pekerjaan yang mirip dengan gaya gue, dan ini yang gue suka dan menurut gue penting. Karena ketika lo ambil kerjaan yang gak sesuai dengan mereka, perlahan ketika lo sadar bahwa uang melebihi identitas atau karakter lo sebagai artis/desainer, kelar!

Satu pertanyaan terakhir nih, susah gak sih buat pekerja seperti lo bisa bersantai dan liburan?

DK: Gak susah dong, karena memang jadwal gue lebih fleksibel. Tapi kadang ada juga momen dimana gue harus nahan laper karena uang gue pas-pasan banget. Momen itu seringnya terjadi ketika “Duh, harusnya gue ngambil kerjaan ini!”

Jadi sekarang setiap ada tawaran kerjaan, gue lebih sering jadi “Yes-man” walaupun realitanya gue gak mesti segitu ngoyo. Dan gue pengen banget sebenernya hilangin kebiasaan itu. Alasannya karena sekarang umur gue 30 tahun, dan kalau inget masa-masa saat umur 20 tahun, gue gak ngerasa punya banyak waktu untuk having fun. Gue cenderung selalu kerja, kerja, dan kerja. Di poin ketika gue sibuk kerja, gue jadi kehilangan banyak memori, nah sekarang gue merasa perlu menciptakan memori yang mengesankan di hidup gue.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen