Fakta Brutal Tentang “Science of Love”

Berlokasi di Grand Orchardz Hotel, Kemayoran, Jakarta, acara “Science Of Love” yang diselenggarakan oleh Kelas Cinta, sebuah penyedia jasa konsultasi, pelatihan dan program revolusioner di bidang cinta dan romansa pertama di Indonesia. Pada Sabtu, 9 Februari 2019 lalu, dengan sukses menghadirkan pembicaraan dan pembahasan tentang cinta yang disajikan secara serius namun tetap humoris. Gelak tawa pun tak terhindarkan dari para peserta yang dihadiri oleh para kaum adam dan hawa berusia 21 tahun ke atas tersebut.

Santai tapi “membantai”, adalah deskripsi yang tepat untuk menggambarkan acara talkshow yang bertemakan pembahasan relasi cinta dari kacamata logika dan ilmiah ini. Acara yang berlangsung selama kurang lebih empat jam ini disajikan dengan fresh, santai, tidak kaku, sangat interaktif, dan tidak membosankan, apalagi terlalu menggurui meskipun menghadirkan seorang ahli bedah syaraf, yaitu dr. Ryu Hasan, Sp.BS, sebagai salah satu narasumber dan pembicara.


So many brutal truths, awful and eye-opening facts about love, relationship and marriage were given to the audience along the event.


Para peserta yang hadir sebagian adalah pasangan muda, baik yang sudah, berencana untuk dan ingin menikah, atau bahkan mereka yang berencana untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Tidak terlihat adanya rasa bosan yang mampir selama berlangsungnya acara. Banyaknya para peserta, kurang lebih berjumlah 125 orang, diberikan ilmu luar biasa dari dua pembicara lainnya yang sudah profesional di bidang mereka, yaitu Lex Depraxis dan Kei Savourie, dua founder Kelas Cinta.

Acara dibuka oleh Kei Savourie, sebagai salah satu founder dari Kelas Cinta, ia memberikan fakta tentang pentingnya memiliki hubungan cinta, romansa, dan perlunya mempunyai kehidupan yang bahagia dalam berkeluarga, berumahtangga dan menjalin hubungan antar sesama manusia.

Fakta cinta dikacamata milenial

“Memiliki kehidupan berkeluarga dan rumah tangga yang penuh cinta dan kasih sayang itu selain membuat hidup kita semakin bahagia, juga membuat kita berumur panjang”, papar Kei pada saat sesi pembukaan dimulai. Hal tersebut dengan mudahnya diterima oleh para peserta. Siapa yang tidak mendambakan memiliki pasangan yang bisa kita cintai dan mencintai kita seumur hidup? Tidak bisa dipungkiri, bahwa hubungan cinta dan romansa merupakan dua hal yang menjadi kebutuhan manusia.

Tidak sampai di situ, belum lagi banyaknya materi-materi “brutal”, ilmu, dan fakta-fakta tentang manusia dari segi ilmiah dipaparkan oleh dr. Ryu Hasan, Sp.BS, “Pernikahan itu bisa saja terjadi, tetap ada dan berjalan meskipun tanpa cinta”, ujar pakar neurologi tersebut.

Hal itu tak terlepas dari fakta kehidupan pernikahan di era milenial ini bahwa pernikahan bisa terjadi karena merasa bahwa hal tersebut merupakan tuntutan di umur yang tidak lagi muda, keinginan dan paksaan orang tua, bahkan tekanan sosial. “Meskipun rasa cinta terhadap pasangan tidak ada, pernikahan tetap dijalani karena sudah menjadikan hal tersebut sebagai tanggung jawab dan jalan “halal” untuk memenuhi kebutuhan biologis”.

“Namun, tidak menutup kemungkinan jika sepasang laki-laki dan perempuan yang saling jatuh cinta ingin menikah dan membangun pernikahan dengan cinta. Cinta itu sendiri muncul karena hasil dari reaksi kimiawi, atau biasa kita kenal dengan istilah chemistry, yang timbul akibat adanya ketertarikan biologis antar lawan jenis”

– dr Ryu Hasan

Selama acara berlangsung, para peserta didorong untuk menjadi pribadi yang lebih cerdas dan maksimal dalam berhubungan dengan lawan jenis. Acara “Science Of Love” ini hadir bukan saja untuk menawarkan para peserta tentang pentingnya nilai-nilai dan pola pikir yang didapat tentang pentingnya memiliki ilmu tentang relasi cinta dan romansa, tapi juga agar para peserta bisa mengimplementasikan nilai-nilai dan pola pikir tersebut di kehidupan nyata. Karena pada kenyataannya, cinta itu tidak hanya soal rasa, melainkan sebuah fakta dan ilmu yang bisa dipelajari

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen