Tips Jitu Menghadapi Argumen dengan Pasangan

Dalam kehidupan pernikahan, selalu ada perdebatan yang gak bisa dihindari (gimana mau dihindari kalau tinggal di atap yang sama). Tak peduli seberapa banyak kesamaan atau besarnya rasa cinta satu sama lain, dengan background, pola pikir, kebiasaan, pemahaman dan masih banyak lagi jati diri individu yang terbentuk dari masa lalu sudah pasti akan ada perbedaan dalam argumen. Sangat wajar kan.

Argumen dalam suatu hubungan itu juga baik. Itu tanda kalau masing-masing pihak masih peduli dengan apa yang dipikirkan, dikatakan, atau dilakukan pasangannya. Apatis atau berusaha tidak memberikan argumen bukanlah cara sukses menjalin hubungan. Debat terus-terusan juga tidak baik, tapi ingat, pasti ada selalu ada jalan tengah layaknya negosiasi dalam bisnis atau hal apapun.

Seorang terapis, Dr. Nancy Irwin, mengatakan bahwa argumen bisa membawa hubungan menjadi lebih dekat. “Inilah mengapa makeup sex pada suami istri bagus”, tambah Dr. Irwin. Psikolog klinis, Dr Hillary Goldsher juga menambahkan kalau konflik dalam hubungan tak hanya normal tapi juga sehat. Saat konflik sudah muncul, perlu solusi dari dua pihak pasangan intim. Solusi yang terbaik dalam menjawab pertanyaan akan sebuah konflik adalah “How to handle it”, bukan “Is it going to be a disaster?”. Remember, you are what you think!

Banyak yang mengira kalau berdebat itu masalah keterampilan. It’s totally different case. Dalam topik ini kita gak dituntut untuk menang debat. Dan seseorang gak akan bisa menjalin hubungan yang awet kalau masih mengkhawatikan siapa yang akan memenangkan argumen. Justru yang paling penting adalah mengakui suatu argumen meskipun kita yang benar. Rasanya mungkin gak nyaman, tapi ingatlah, tiap saat pasangan juga melakukan hal yang sama untuk kita. Appreciate other is the key learning.

Waktu adalah Kunci Keberhasilan

Sering sekali emosi gak bisa ditahan, ini yang mengakibatkan kita kehilangan poin penting dalam komunikasi, yaitu tahan dan bersabar mencari timing yang tepat. Jadi, tahu gimana cara yang tepat untuk berargumen itu tidak cukup, waktu untuk menyampaikan pendapat jauh lebih krusial.

Lagi sibuk di kantor? Merasa tertekan karena banyak kerjaan? Capek dan mau tidur? Atau malah lagi buru-buru berangkat kerja? Mencoba menyelesaikan debat di waktu yang gak tepat bisa memberikan hasil yang kurang diinginkan. Aturlah waktu khusus untuk membicarakan kehidupan rumah tangga. Bisa tiap hari di jam tertentu, atau seminggu sekali, intinya harus sesuaikan dengan kondisi di rumah. Pasangan yang meluangkan waktu untuk membicarakan topik-topik penting secara teratur menunjukkan kalau pasangan mereka penting dan bersedia untuk menyempurnakan aspek-aspek yang kurang dari hubungan mereka. Kalau waktu tak mendukung, inilah yang harus dilakukan,

1. Hindari argumen di tempat umum

Beradu argumen di depan banyak pasang mata yang melihat akan membuat kedua pihak lebih sulit untuk saling minta maaf, alias gengsi. Sayangnya, sulit untuk menjamin argumen gak akan pernah terjadi di luar rumah. Emosi bisa muncul kapan saja. Makanya, penting untuk mengendalikan diri saat perdebatan muncul. Kalau kita sadar perdebatan mulai makin panas, cobalah untuk tidak “nge-gas” tapi tegas menyarankan kepada pasangan untuk menahan topik debat sampai nanti malam, atau waktu berikutnya saat sedang berdua saja. Mungkin tetap akan ‘panas’ biarpun sudah berdua saja, tapi setidaknya gak menyebabkan keributan di tempat umum.

pria argumen goodmen

Kalau gak berhasil, dan salah satu pihak ternyata gak sabaran, bersiaplah keluar dari keramaian. It means, langsung pulang ke rumah, atau mencari tempat private. Menyuruh pasangan untuk diam, meninggalkannya begitu saja, atau bersikap defensive justru bisa membuat api semakin berkobar.

2. Ambil jarak untuk menenangkan diri

Saat lagi bertengkar dengan seseorang, gak peduli seberapa kecil topik pembicaraannya, saling menatap saja bisa bikin hati kesal. Apalagi kalau sudah diem-dieman, proses penyelesaian malah jadi makin lama.

wanita argumen goodmen

Seringkali waktu yang digunakan untuk menjauh dari pasangan memberikan kita kesempatan untuk tenang dan menghargai sudut pandang mereka. Pastikan untuk kembali membicarakan topik yang dibahas bersama dan mencapai kesepakatan. Tahu kapan tidak membahas argumen juga penting. Lihat situasi, mungkin pasangan kita lagi badmood. Tapi, jangan kelamaan menunggu sampai muncul perdebatan yang lain. Menyelesaikan satu topik terlebih dahulu justru menyelamatkan kita dari kemungkinan argumen lain yang akan muncul ke depannya.

3. Jangan malu untuk “mengalah”

Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari sebuah longterm relationship adalah memenangkan argumen itu hanyalah kemenangan kosong belaka. Apalagi kalau membuat dua orang terus berseteru. Mood bisa berantakan. Lebih baik hanya mengambil satu pendapat dan tidak mempertahankan argumen kita demi menyelamatkan suasana. Psikoterapis, Sharon Martin, mengingatkan bahwa dua orang dalam satu hubungan sesungguhnya berada di tim yang sama. Jadi, tujuannya bukan untuk memenangkan argumen, tapi membuat penyelesaian dengan cara yang baik dan bisa memenuhi kebutuhan keduanya.

But, kalau mau coba saran ini, ada syarat-syarat yang harus diingat. Pertama, memilih untuk tidak mempertahankan argumen sendiri bukan berarti pura-pura kalo pasangan yang benar. Kita menyerah untuk kebaikan. Kibarkan bendera putih dulu. Kita bisa memberikan argumen dengan cara yang lebih baik di lain hari. Nah, gimana kalau kita ngerasa ternyata si dia argumennya lebih benar? Ya ikuti pendapatnya. Kedua, don’t be bitter about it. Jangan jatuh ke dalam pikiran “kita menyerah biar dia diam”. Sebaliknya, kita berkorban demi menjaga keharmonisan. Kemungkinan besar mereka bakal melakukannya untuk kita juga nantinya.

Gak bisa mengakui, tapi ingin mengakhiri argumen? Empati bisa mengatasinya. Bilang ke pasangan kalau kita sudah mendengar pendapatnya, paham maksudnya, dan mengerti kenapa dia kesal, bisa mengakhiri perdebatan tanpa harus mengibarkan bendera putih.

Finally, pilih apa yang harus kita pertahankan. Beberapa argumen terlalu penting untuk dilepas gitu aja. Kita bisa menyelesaikannya dengan cara lain. Apalagi kalau argumen itu berdampak ke kehidupan personal dan rumah tangga kita. Kalau cuma masalah ‘makan dimana’, biarkan saja pasangan yang memilih. Tapi, kalau sudah membahas tentang ‘akan tinggal dimana’, ‘aturan rumah tangga apa yang perlu ditegakkan’, lain cerita. Bukan berarti cuma mengikuti sudut pandang salah satu pihak, tapi keduanya tetap harus berdiskusi baik-baik.

4. Belajar berkompromi

Dr. Goldsher menjelaskan bahwa kompromi adalah “salah satu prinsip penting dalam penyelesaian konflik”. Solusinya harus tentang kebaikan bersama, enggak cuma individu. Kompromi menghasilkan niat yang baik. Tapi, gak semua pasangan punya perspektif yang sama tentang semua hal. Itu berarti kita perlu mencari tahu argumen apa yang tidak dan perlu untuk dipertahankan.

adam levine argumen goodmen

Apapun topiknya, cari kesepakatannya. Misal, pasangan inginnya punya rumah dengan cat berwarna tosca dan gak mau dinegosiasikan. Kita bisa tawari hal lain, misal dekorasi tambahan apa yang diinginkan yang sekiranya kita juga suka. Yang penting mencari tahu apa yang benar-benar penting bagi kedua belah pihak, dengan penyampaian yang mudah dipahami dan gak dilakukan saat ‘panas’. Ketika marah, kita bisa membicarakan banyak hal yang kurang penting karena prioritas yang sebenarnya telah tercampur ke dalam argumen. Dr. Goldsher menambahkan bahwa kita perlu memastikan topik apa yang tetap dibicarakan untuk mengubah hubungan agar menjadi lebih baik.

5. Akui aja kalau memang salah

Namanya juga manusia, kadang-kadang kita sulit untuk mengaku salah. Kita juga lupa melihat dari sudut pandang orang lain. Coba saja sekali-sekali, dengarkan apa yang membuat dia marah. Turunkan ego, mungkin kita jadi sadar kalau mereka benar. Refleksi diri bisa membantu kita menyadari itu. Gimana dengan harga diri? Lebih gak pasti. Harga diri bisa membuat hubungan menjadi lebih bahagia atau malah penuh pertengkaran. Mau mengakui ketika salah bisa menjadikan hubungan lebih dekat. Nantinya mereka akan lebih bersedia untuk melakukan hal yang sama ke kita.

denzel washington argumen goodmen

Debat boleh, tapi jangan dijadikan ajang kompetisi tak berujung. Kebanyakan tidak ada hubungan yang berlangsung lama tanpa adanya argumen. Tidak peduli apa niat kita, atau seberapa baik kita bisa mengelola perdebatan, kalau sudah marah, rencana bisa berantakan. PRnya adalah bersiaplah untuk berbaikan esoknya. Ingat juga, berdebatlah di tempat yang private, luangkan waktu untuk menenangkan diri, menyerah saat perlu, dan berkompromi jika memungkinkan. Dengan mengikuti pedoman itu, semoga perdebatan akan semakin jarang terjadi

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen