pola pikir cepat versi goodmen

Dunia kerja mengalami revolusi dari zaman dahulu dengan teknologi yang semakin maju, yakni teknologi digital. Kemudahan dalam mendapatkan informasi menuntut manajemen dapat bekerja secara cepat untuk menangani setiap informasi tersebut.

Ciri paling mencolok dari revolusi dunia kerja adalah munculnya agile project management. Seperti yang diketahui, agile sendiri bisa diartikan sebagai cepat, tangkas. jadi yang dimaksud dari agile project management adalah sistem manajemen yang memiliki tingkat adaptibilitas tinggi dan cepat dalam melakukan pekerjaan.

Dari pemaparan diatas, tentu kamu sudah bisa membayangkan, betapa pentingnya sebuah pola pikir cepat dalam manajemen agile. Karena itu kita kali ini akan coba mengulas mengenai mindset agile yang dibutuhkan untuk dunia kerja kedepannya.

Seperti Apa Mindset yang Agile?

Maksud dari memiliki pola pikir Agile semuanya diawali tidak begitu jelas. Beberapa orang menggunakan pendekatan tertentu untuk mendefinisikan, “Anda tahu ketika melihatnya.” Namun, seiring berjalannya waktu, sifat dan isi dari pola pikir Agile sudah di klarifikasi, khususnya mengenai pola pikir birokrasi dan perusahaan yang lazim di banyak organisasi besar.

Dengan begitu, para praktisi dianggap mempunyai pola pikir Agile ketika mendapat kesibukan dan kadang terobsesi dengan inovasi dan memberikan banyak nilai pelanggan secara berkala. Hal ini dilakukan untuk menyelesaikan pekerjaan di dalam tim organisasi yang jumlahnya lebih kecil dan berkolaborasi bersama jaringan interaktif. Organisasi seperti itulah yang terbukti mempunyai kapasitas beradaptasi dengan cepat ke pasar yang bergerak dinamis.

Sebaliknya, seorang manajer di dalam organisasi sering dikata mempunyai pola pikir birokratis ketika sibuk mencari uang bagi perusahaan dan pemegang saham. Selama mereka mengorganisir pekerjaan berdasarkan aturan, peran dan kriteria yang mereka lakukan berdasarkan hierarki top-down ke banyak lapisan dan divisi.

Peran Ki Hadjar Dewantoro dalam Manajemen Organisasi

Salah satu tokoh penting di dunia leadership Indonesia, Ki Hadjar Dewantoro memang tidak bisa lepas dari peran penting dunia pendidikan. Namun, sebelum merambah ke kependidikan, Ki Hadjar termasuk tokoh pergerakan yang ikut mendirikan Indische Partij bersama Tjipto Mangunkusumo dan Dowes Dekker.

Tidak mengherankan kalau konsep yang mendasari tulisan Ki Hadjar Dewantoro tentang kependidikan tidak terlepas dari pengalaman dan pengetahuan berorganisasi serta memimpin organisasi.

“Sistem Among”

Konsep yang ditinggalkan Ki Hadjar Dewantoro adalah Sistem Among, yang ada di agile. Sistem among dalam konsep leadership menjelaskan bahwa kekuatan membuat banyak pemimpin dalam organisasi terobsesi terhadap hasil dan kontrol sehingga mereka kurang memperhatikan organisasi. Energi positif agar mudah dan cepat beradaptasi dengan agile (perubahan) menjadi tertahan bahkan berhenti.

Relevan dengan konsep sistem among, Gary Hamel pun mengatakan bahwa daya menetas ke bawah. Pemimpin besar menunjuk pemimpin kecil agar setiap individu bersaing untuk melakukan promosi. Kompensasi berhubungan dengan peringkat sehingga manajer menial kinerja berdasarkan aturan sebagai pembatas keleluasaan.

Birokrasi yang muncul dari pola pikir tersebut acap menemukan kesulitan untuk beradaptasi dengan dunia yang mengalami perubahan dan bergerak demikian cepat. Dua jenis pola pikir yang berbeda berdampak kuat para perilaku masing-masing dan bisa dilihat sebagai kekuatan de facto hukum sebuah organisasi.

Bukannya birokrasi/organisasi tidak peduli terhadap konsumen (pelanggan), hanya saja mereka lebih fokus terhadap sesuatu yang menghasilkan uang bagi perusahaan. Mereka tidak pernah menggunakan tim, bahwa di dalam birokrasi tim mengatur sendiri merupakan pengecualian.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen