4 Saran Bisnis Keluarga Supaya Langgeng

90% bisnis keluarga tidak sampai ke generasi ketiga. Ada tantangan tersendiri ketika kita memutuskan untuk bekerja dan memiliki hubungan seumur hidup dengan orang yang tumbuh bersama kita. Entah itu adanya overlap antara kepentingan pribadi dan profesional atau salah mengurus proses perekrutan, serta kurangnya minat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Belum lagi ada drama yang bisa menguras emosi. Dinamika keluarga yang bermasalah bisa lebih menantang daripada manajemen di dalam bisnis non-family. Lagi pula, tidak seperti bekerja untuk perusahaan orang lain di mana kita bisa pergi begitu saja kalau ada masalah. Selain berdampak pada bisnis, masalah hubungan keluarga dapat memiliki dampak psikologis dalam jangka panjang di luar tempat kerja.

bisnis keluarga goodmen

Bukan berarti bisnis keluarga itu tidak baik. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari bisnis keluarga, hanya saja pengelolaannya membutuhkan energi ekstra. Berikut adalah kiat-kiat dari para ahli agar sukses mengembangkan bisnis keluarga dan menjaga perdamaian dengan kerabat bahkan saat kita bekerja dengan mereka. Tapi sebelumnya mari kita lihat kilas bisnis keluarga di Asia Pasifik.

Potret bisnis keluarga di Asia

Percaya atau tidak bisnis keluarga di Asia Pasifik adalah yang paling ambisius di dunia. Sebesar 21% dari pelaku bisnis tersebut memiliki perencanaan pertumbuhan yang terpesat dan teragresif menurut survei global dari PwC. Studi tersebut diadakan tiap dua tahun sekali, “The Missing Middle: Bridging the strategy gap in family firms.”

Di Indonesia, sejak tahun 2016 sudah diramalkan bahwa bisnis keluarga yang prospektus adalah yang menganut nilai-nilai seperti kemampuan kewirausahaan, organisasi yang tetap efektif dan sederhana, juga pengambilan keputusan yang lebih cepat. Satu hal sekarang yang tidak bisa lepas adalah peranan digital dan manfaat yang dapat diberikan. Berbeda dengan bisnis keluarga di Amerika Utara dan Eropa Barat, memiliki ambisi yang lebih rendah dalam perencanaan pertumbuhan bisnisnya. Nah sebagai generasi muda Indonesia harus bangga kepada generasi-generasi kita sebelumnya yang telah mengukir bisnis keluarga hingga turun temurun ke generasi hingga saat ini. Berikut adalah contoh 4 bisnis keluarga di Indonesia yang umurnya panjang,

Berikut Tips Buat Kamu Yang Berencana Memiliki Kerajaan Bisnis Keluarga

1. Kembangkan panduan kebijakan yang menyeluruh

Terri Sniegolski, CEO dari Creative Colors International, mendirikan perusahaan bersama saudaranya. Ia pun menyarankan untuk membuat panduan kebijakan yang mencakup tanggung jawab pekerjaan, gaji, cara mempekerjakan anggota keluarga, pengambilan keputusan, dan sebagainya. Semuanya perlu dituangkan dalam bentuk tertulis. Jadi, saat terjadi ketidaksetujuan, kita merujuk kepada panduan kebijakan itu. Panduan kebijakan juga perlu diperbaharui secara berkala untuk menghindari silang pendapat di kemudian hari.

2. Aktif mengelola dinamika keluarga

Bekerja dengan keluarga berarti hal-hal pribadi juga ikut terbawa sampai kantor. Batas harus ditetapkan untuk menjaga drama agar hanya sebatas di rumah daripada berpotensi merusak lingkungan kerja di perusahaan. Selain penting untuk membuat perjanjian dalam menangani konflik keluarga baik di dalam maupun luar kantor, kita juga harus menghindari drama itu dari awal. Komunikasi yang terbuka itu perlu. Jatuhnya bisnis keluarga salah satunya disebabkan komunikasi yang buruk. Mungkin sulit untuk jujur dengan anggota keluarga mengenai suatu masalah. Namun, kalau kita tidak mengkomunikasikan kekhawatiran secara terbuka, masalah akan memburuk dan tak kunjung usai. Adakan pertemuan bisnis rutin di antara anggota keluarga untuk mengatasi masalah sejak awal. Bisa dilakukan pada akhir minggu untuk membahas masalah bisnis atau pribadi apa pun yang bisa mempengaruhi perusahaan.

3. Rencanakan pertumbuhan di masa depan

Seperti semua wirausahawan, pendiri bisnis keluarga umumnya sangat tertarik dengan bisnis mereka. Seringkali, mereka tidak bisa membayangkan kehidupan tanpa pekerjaan mereka, dan enggan menyerahkan kendalinya. Namun, pada titik tertentu, semua orang perlu mengundurkan diri. Mulailah lebih awal untuk merencanakan transisi ke generasi berikutnya. Bahkan kalau kita berencana untuk bekerja sampai terjatuh, siapa yang tahu keadaan apa yang akan terjadi? Memiliki anggota keluarga yang lebih muda yang siap untuk masuk dan mengambil alih bisa menjadi faktor penentu apakah bisnis kita tetap hidup atau mati. Belum lagi, itu akan membuat hidup lebih mudah kalau kita memutuskan ingin pergi berlibur dua minggu satu hari.

4. Buat dewan penasihat yang mencakup anggota non-keluarga

Para ahli merekomendasikan untuk menyiapkan dewan penasihat yang bukan dari anggota keluarga untuk meningkatkan keterampilan dan pengalaman serta membantu menyeimbangan kepentingan saat anggota keluarga teribat dalam konflik. Dewan penasihat mencakup pemilik bisnis lain, bankir, dan akuntan serta penasihat keuangan. Pertemuan dengan dewan penasihat juga harus dilakukan secara teratur. Kelompok ini harus membahas arah di mana perusahaan sedang menuju dalam hal rencana perekrutan, membeli lebih banyak aset, dan strategi untuk pertumbuhan.

5. Tempatkan orang-orang terbaik dalam peran yang tepat karena kemampuan, bukan garis keturunan

Adalah hal biasa bagi karyawan yang non-keluarga dalam family business untuk merasa bahwa mereka tidak akan pernah maju atau menikmati keuntungan yang dimiliki anggota keluarga sesungguhnya. Kalau bisnis kita berkembang, karyawan non-keluarga sangatlah penting. Kita harus bekerja keras dan memastikan tidak pilih kasih terhadap anggota keluarga dibandingkan karyawan lain. Sangat mudah ketika menjalankan bisnis keluarga untuk menempatkan anggota keluarga dalam posisi yang diinginkan untuk menghindari konflik dalam jangka pendek. Tetapi, tidak semua orang cocok untuk menangani posisi dengan baik, dan mungkin ada bakat lain di luar keluarga yang bisa membantu perusahaan berkinerja lebih baik. George Isaac, seorang konsultan bisnis keluarga, menyarankan para pemilik family business untuk menjalankan bisnis sebagai meritokrasi. Denganc cara ini, maka akan meningkatkan kinerja dan meminimalisir munculnya rasa benci karyawan.

6. Buatlah tujuan bersama yang rasional dan aspirasional

Semua anggota keluarga yang terlibat dalam bisnis adalah individu yang memiliki prioritas, kebutuhan, dan visi mereka sendiri untuk masa depan. Ingatkan anggota keluarga tentang visi dan misi perusahaan kita. Ketika anggota keluarga memiliki serangkaian sasaran yang sama untuk bisnis tersebut, mereka akan lebih termotivasi untuk bekerja sama. Bekerjasama untuk tujuan bersama bisa membantu kita mengatasi perbedaan. Fokus pada tujuan akhir bisnis, tidak hanya melayani pelanggan, tetapi juga untuk menciptakan warisan abadi bagi generasi mendatang.

7. Pertimbangkan saran dari tiap generasi

Setiap generasi perlu mengembangkan dan terus menerapkan strategi baru untuk terus melindungi dan menumbuhkan bisnis. Lingkungan bisnis dan sasaran investor berubah seiring waktu. Seringkali, ketika bisnis keluarga tidak bertahan, itu karena generasi pertama menolak untuk mendengarkan ide generasi kedua untuk memperbarui bisnis. Padahal, hanya karena orang tua menjalankan bisnis dengan cara tertentu, tidak berarti kita harus melakukan hal yang sama, terutama kalau kita merasa bahwa ada perubahan yang sangat penting untuk pengembangan jangka panjangnya. Namun masalahnya, anggota keluarga yang lebih muda juga sering terlalu cepat untuk membatalkan metode lama atau menganggap bahwa para senior tidak bisa dihubungi. Luangkan waktu untuk mendengarkan semua sudut pandang, dari semua kelompok usia dalam anggta keluarga yang terlibat dalam bisnis. Semakin banyak perspektif berbeda yang didengar, semakin baik solusi yang akan didapatkan.

8. Beri kesempatan anggota keluarga yang lebih muda untuk terlibat dalam bisnis

Berikan anggota keluarga yang lebih muda sebuah kesempatan untuk mendapatkan rasa kewirausahaan dengan bekerja dalam bisnis keluarga. Kalau masih bersekolah, mungkin bisa diberikan kesempatan untuk internship. Pastikan mereka mendapat kesempatan untuk mengalami berbagai aspek bisnis yang ada di perusahaan kita. Pengalaman langsung akan memberi mereka ide yang lebih baik, apakah mereka ingin bergabung dengan bisnis ketika mereka selesai dengan pendidikan mereka. Ingat, tidak ada perlakuan khusus bagi anggota keluarga yang ingin bergabung dengan perusahaan. Biarkan mereka mulai dari bagian bawah layaknya karyawan yang bukan dari anggota keluarga.

9. FAMILY TIME!

Hanya karena kita menjalankan bisnis bersama, tidak berarti kalau pekerjaan harus menjadi fokus utama dengan keluarga. Isaac mengingatkan bahwa hidup sebagai keluarga dengan kepentingan luar sangat penting untuk menjaga semua orang agar tetap sehat jiwa dan raga. Ia merekomendasikan family time untuk hanya menikmati kebersamaan dan menghargai satu sama lain. Seringkali menciptakan Dewan Keluarga sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama untuk bisnis keluarga multi-generasi. Dengan cara ini kita tidak akan melupakan ikatan keluarga yang akan membuat kita tetap bersama terlepas dari dunia bisnis.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen