Things I’d Never Do: Menjadi Terlalu Baik

Segmen Things I’d Never Do dibuat sebagai bentuk kesadaran diri terhadap kesalahan-kesalahan di masa lalu. Dalam hidup, kita pasti pernah berbuat hal-hal yang salah atau telah kita sesali di masa depan. Salah satunya, yang juga menjadi pengalaman pribadi penulis, adalah bersikap terlalu baik kepada semua orang.

Sebagai sosok pria yang baik dan berjiwa kepemimpinan, kita semua pasti dituntut oleh lingkungan dan diri sendiri untuk berbuat kebaikan. Menurut berbagai agama dan kepercayaan contohnya, berbuat baik akan menenangkan batin dan dibalas kebaikannya kelak usai meninggal. Sementara itu, menurut lingkungan sosial, berbuat baik adalah bentuk kepedulian terhadap orang lain, dan mereka yang menerimanya kelak akan membalasnya juga.

Yup, pujian-pujian dan manfaat yang kerap diceloteh lingkunganmu membuat sikap baik hati ini menjadi paksaan, secara enggak langsung. Terkadang malah menjadi klise dan bualan belaka. Dan karena itu, di sinilah akar permasalahannya: Terkadang kita menjadi terlalu baik. Baik kepada pasangan, sahabat, rekan kerja, orang tua, atau bahkan sesama penumpang kendaraan umum. Tanpa disadari, sikap ini justru menjadi racun yang pelan-pelan merusak mental, tenaga, dan finansialmu sendiri.

Gawatnya, terlalu baik juga menjadi salah satu faktor penyebab depresi. Segitu bahayanya kah sifat ini?


Sifatmu yang terlalu baik akan dimanfaatkan orang-orang


Kenapa bersikap terlalu baik bisa merusak dirimu? Well, mau sebaik apapun dirimu, bukan berarti orang-orang akan bersikap baik juga kepadamu. Beberapa dari mereka bahkan enggak akan ragu memanfaatkan kebaikanmu dengan cara apapun.

Sorry not sorry: Pahami situasimu baru ambil keputusan yang benar

Pasanganmu enggak mau mengakui kesalahannya? Bila kamu bersikap terlalu baik pada dirinya, ia tidak akan pernah mengakui kesalahan tadi. Malahan, ia bisa saja ngelunjak dan berlaku seenaknya pada dirimu, seperti minta dimaafkan untuk setiap kesalahannya, atau dirimu harus melakukan apapun yang ia minta demi memuaskan egonya. Ia pun mulai berani mengata-ngataimu karena kamu tidak bisa melawannya. Nah, pada titik ini, hubunganmu dengannya sudah menjadi toxic dan berbahaya.

Gimana kalau di lingkungan pekerjaan? Biasanya di tempat kerja yang toxic, rekan-rekan kerjamu akan selalu memintamu untuk ikut nongkrong, bicara ngalor ngidul sampai “berhedon” ria, atau mengerjakan kerjaan yang bukan tugasmu. Bila kamu bersifat terlalu baik pada mereka dan mengiyakan semua keinginannya, kamu akan terseret dalam pergaulan yang toxic itu. Namun bila kamu menolak atau bahkan sekadar menunjukkan ekspresi tidak setuju/mau, malah kamu yang digosipin dan keberadaanmu di kantor bisa-bisa malah terancam. It’s a lose-lose situation.

Atau di lingkungan yang jauh lebih dekat di hati, yaitu di lingkungan keluargamu? Jangan salah, anggota-anggota keluargamu pasti akan lebih terdorong untuk meminta bantuan padamu. Umumnya sih bersifat finansial, walau ada juga permohonan lainnya seperti meminta salah satu dari mereka untuk tinggal denganmu di luar kota.

Lho, apa salahnya membantu anggota keluarga yang kesulitan?

Harusnya sih tidak, namun orang-orang di dunia ini yang tidak tahu diri itu jumlahnya lebih banyak dibanding sebaliknya. Dan sadar enggak sadar, di lingkungan keluarga sendiri, orang-orang yang tidak tahu diri itu banyak. Bila kamu membantu mereka terus, mereka akan lupa diri dan terus menguras keuangan, ruang pribadi, material, dan mentalmu. Sedangkan bila menolak, mereka akan menegaskan betapa pentingnya nilai-nilai kekeluargaan (atau bahkan nilai-nilai keagamaan) di waktu yang sulit, membuat suasana di rumah jadi kurang nyaman.


Kamu “terlalu baik” karena kurang berani berkata “Tidak”


Sebenarnya, apa yang menyebabkan kebaikanmu sering dimanfaatkan orang-orang? Apa yang membuat mereka berani memanfaatkanmu? Jawabannya ternyata cukup simpel: Kamu kurang berani berkata “Tidak.” Meski simpel, hal ini sebenarnya memiliki peran dan alasan yang penting untuk kehidupanmu.

Orang yang terlalu baik cenderung kurang berani berkata “Tidak” karena terlalu memikirkan perasaan orang lain. Ia juga takut menghadapi konsekuensi yang mungkin terjadi bila menolak menolong orang lain.

Dalam hubungan, misalkan, ia mungkin bersikap baik karena takut ditinggal pasangannya. Sedangkan di lingkungan pekerjaan, ia takut dipecat oleh kantornya. Dan di lingkungan keluarganya sendiri, ia mungkin belum berani untuk mandiri dari keluarganya, atau takut tidak memiliki tempat untuk pulang di kampung halamannya sendiri. Alasan-alasan lain yang bersifat lebih personal pun ada, hanya dirimu sendiri yang tahu itu. Tapi, tanyakan hal ini pada dirimu sendiri:

“Apakah menjadi terlalu baik itu pantas bila pengorbanan dan hasilnya tidak sebanding?”


Stop mengalah terus, mulailah berani berkata “Tidak”


Karena terlalu baik itu juga enggak baik, mulailah berani berkata “Tidak.” Memang kesannya sepele, namun dengan berani berkata tidak, kamu akan terlihat lebih tegas. Kamu bisa menunjukkan bahwa hidupmu pun enggak kalah pentingnya dari mereka, dan mereka tidak berhak meminta tolong ketika kamu lagi enggak punya kapasitas/wewenang untuk menolong mereka.

Jangan terlalu memanjakan pasanganmu dengan menjadi terlalu baik. Tunjukkan bahwa kamu juga punya kesibukan dan kondisi finansial yang harus diurus bila ingin hubunganmu dengannya bertahan. Lalu, tegaskan setiap kesalahannya, tapi jangan bentak dia. Hubungan yang baik seharusnya dilalui bersama, jadi kedua pihak harus saling memperbaiki diri. Kalau kamu menyampaiknnya dengan penuh pengertian, ia pasti akan memakluminya.

Seringkali, berani berkata “tidak” justru membuat orang lain menghargai dan melihat kuatnya pendirian kamu

Sementara di lingkungan kerja, jangan pernah membiarkan dirimu sendiri terseret ke dalam pergaulan toxic. Tolaklah ajakan-ajakan mereka dengan sopan supaya tidak ada kesalahpahaman yang menimbulkan drama kantor. Dan jangan takut bila kamu terancam dipecat dari kantor karena gosip, tunjukkan saja pada mereka kinerjamu yang enggak main-main ini. Kecuali bila kantormu sendiri sudah toxic, maka tidak ada gunanya lah bertahan di sana, dan sebaiknya kamu mencari lingkungan kerja baru yang lebih kondusif.

Terakhir, di lingkungan keluargamu sendiri, tolaklah secara halus permintaan mereka. Tunjukkan bahwa kamu punya kehidupan sendiri yang masih harus dirapikan, dan kondisi keuangan pun pasti belum cukup untuk membantu mereka. Jangan takut ketegasanmu bakal membuat suasana menjadi tidak nyaman, minimal beranikan diri dulu dan katakan tidak secara halus. Awalnya mereka pasti syok, tapi perlahan akan mengerti dengan kondisimu sendiri.

Sebenarnya kalau dibicarain dengan baik, mereka pasti memahami alasanmu berkata tidak. Tapi beda ceritanya kalau di lingkungan toxic, sebaiknya kamu segera move on dan keluar dari lingkungan itu. Jangan memelihara sifat terlalu baik karena bisa merugikan dirimu sendiri. Mulailah sedikit lebih realistis walaupun ini membuatmu terlihat enggak baik di mata orang, karena hidupmu pun berharga juga.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen