To see the World in a Grain of Sand
And a Heaven in a Wild Flower
Hold Infinity in the palm of your hand
And Eternity in an hour


Itulah isi puisi bacaan V, tokoh baru dari video game Devil May Cry V yang rilis pada PS4 beberapa bulan yang lalu. Ia adalah salah satu tokoh utamanya yang merupakan sosok kutu buku, kurus kering, dan bertato dengan ingatan masa lalu yang kelam.

Cuplikan puisi ini pun selalu ia genggam pada buku keemasan di kantongnya. Dan selidik demi selidik, puisi ini sebenarnya punya makna terpendam di balik karakter V. Kenapa begitu?


To see the World in a Grain of Sand adalah mahakarya ciptaan William Blake


Belum pernah mendengar namanya? Tenang, sebelum menulis tulisan ini, penulis juga belum kenal tokoh ini, kok.

Jadi, William Blake adalah sosok puitis ikonik dari Inggris yang popularitasnya naik setelah kematiannya pada tahun 1827, bukan ketika ia masih hidup. Kenapa begitu?

Bagi khalayak pada masanya, karya-karya puisi Blake dianggap sinting. Ia kerap menggunakan pandangan idiosyncratic. Dalam arti kata, ia menulis suatu kalimat dengan menggunakan kata kiasan yang memiliki makna tersirat yang ia inginkan, namun orang lain memandangnya dengan makna yang jauh berbeda. Bagai pedang bermata dua.

Namun di sisi lain, idiosyncratic yang ia pandang sampai tutup usia menjadi ikon legendarisnya. Blake dikenang oleh insan literatur modern berkat karya-karya puisinya yang sangat ekspresif dan kreatif, ditambah unsur filosofis nan misterius yang terkandung di dalamnya.

Salah satu karyanya yang seperti demikian adalah puisi ini, “ To see the World in a Grain of Sand …..”


Oke, sekarang mari bicara soal makna dibalik puisi ini


To see the World in a Grain of Sand adalah cuplikan dari puisinya, Auguries of Innocence yang ditulis pada tahun 1803 namun baru rilis 60 tahun kemudian. Terdiri dari 132 baris kata puitis, puisi ini mengisahkan sejumlah paradoks dalam kehidupan manusia, terutama terkait kemurnian hati manusia yang disandingkan dengan korupsi dan kejahatan dunia.

Empat baris puisi yang tertulis di atas membentuk 128 baris puisi di bawahnya. Ide dari puisi ini adalah: Setiap benda kecil di sekitarmu—sebutir pasir, setangkai bunga liar—punya makna besar yang terpendam. Namun, kamu hanya bisa melihatnya bila memiliki energi dan imajinasi yang cukup.

Anggap kamu punya mainan kecil yang kamu taruh di mangkuk yang diisi oleh air. Benda yang direndam semalaman tadi kemudian berubah menjadi bentuk lain yang lebih besar, misalkan menjadi mainan spons T-Rex.

Nah, “To see the World in a Grain of Sand” mirip seperti itu. Namun dalam puisinya, mainan kecil tadi adalah kiasan-kiasan metafora kecilnya, sedangkan air yang dimaksud tadi adalah pikiranmu sendiri. That’s deep, right?


Lalu, apa kaitan puisi ini dengan tokoh V?


Sebelum itu, simak dulu kisah hidup V.

Ia mungkin baru berusia 2 hari (meski memiliki tubuh berusia 20 tahunan), namun V terlahir dengan ingatan masa lalu yang cukup melekat bahkan ketika ia baru bereinkarnasi. Semasa kecilnya, ibunya tewas dibunuh para iblis, sedangkan sosok ayah dan saudaranya lenyap tanpa jejak di tengah insiden ini.

Alhasil, ia tumbuh sendirian, ketakutan, dan lemah. V tumbuh dewasa tanpa mengenal rasa kasih sayang orang tuanya, rindu akan kampung halaman, atau kebahagiaan dalam memiliki hubungan keluarga.

Seiring waktu berjalan, ia menumbuhkan ambisi untuk menjadi semakin kuat untuk mengisi kekosongan hatinya ini. Pada saat itulah, personifikasi iblis muncul dalam dirinya dan mulai berusaha untuk mendominasi alam batinnya.

Namun jauh di lubuk hatinya, V tetap ingin menjadi manusia. Ia rindu akan segala kebahagiaan di dunia ini. Ia hanya ingin dicintai, ditemani di tengah kesepiannya, dan memiliki sosok yang ia anggap keluarga.

Dan personifikasi iblisnya tahu, bahwa perasaan manusiawi ini akan menjadi kelemahannya. Ketika ia berada dalam kondisi terlemahnya, V dikalahkan oleh iblis ini akibat dibutakan oleh rasa haus tadi. Sosok manusianya kemudian terpisah oleh tubuh aslinya yang kini berubah menjadi sosok lain.

Karena itulah, ia harus mencari orang lain yang bisa membantu menumpas sosok jahatnya. Ia tahu, hanya Dante yang bisa menolongnya.


Kisah hidupnya lah yang membuatnya melekat pada puisi William Blake ini


Seiring terlahir kembali, V mulai melihat segala keindahan yang ternyata ia miliki selama ini. Di tengah dunia manusia yang sedang dihancurkan oleh para iblis, ia paham bagaimana rasanya memiliki keluarga. Perasaan ini tumbuh ketika ia bertemu tokoh-tokoh lain, yaitu Nico, Lady, Trish, Nero, dan Dante.

Kelima tokoh tadi bagaikan The World in a Grain of Sand. Mereka adalah segalanya yang V miliki, sebuah pemicu baginya untuk terus menjaga mereka dan menghentikan serangan iblis di tengah dunia yang hancur ini.


Kamu pun bisa seperti itu, Good Men. Bukan, bukannya punya personifikasi iblis yang bisa menghancurkan dunia, melainkan bisa melihat keindahan dunia di balik hal-hal kecil di dalamnya. Kamu bisa menghargai dunia hanya dengan menghirup udara segar di pagi hari, tersenyum di kantor ketika mengingat orang terkasih.

To see the World in a Grain of Sand. Untuk mensyukuri segala keindahan dunia dalam hidupmu, di tengah kejahatan yang kian menyelimuti lingkungan sosial kita ini. Baik itu di lingkungan kerja, tetangga, teman-temanmu, atau bahkan keluarga sendiri.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen