Ahh, toxic masculinity. Mustahil rasanya memisahkan istilah ini dari kata ‘feminisme.’ Karena, seiring berkembangnya penegasan kesetaraan hak wanita, isu maskulinitas pun mulai terangkat, begitu juga dengan budaya patriakisme.

Tapi, apa kamu memahami istilah-istilah tadi? Dan kenapa kamu harus peduli? Apa pengaruhnya dalam kehidupan kamu?


To find those answers, let’s take a first look at masculinity.


Istilah-istilah feminisme, patriakisme, dan toxic masculinity berkaitan dengan konsep maskulinitas itu sendiri. Nah, apa yang pertama kali terbesit di pikiranmu ketika melihat kata maskulinitas? Apa yang kamu bayangkan dari sosok seorang lelaki yang maskulin?

Apakah sosok pria yang kuat? Stoic (tidak emosional)? Macho? Sporty? Dominan? Ekstrovert? Aktif secara seksual?

Yes, mungkin sebagian besar, atau bahkan semua ciri khas tadi menggambarkan pria maskulin. Namun satu hal yang perlu kamu ketahui, istilah maskulin sendiri lahir dari budaya patriakisme. Budaya ini subur di negara kita, dengan ciri khasnya yaitu mengagungkan status lelaki sebagai pemimpin keluarga, kuat, dan dominan.

Yang artinya, maskulinitas adalah bentuk konstruksi sosial. Masyarakat kitalah yang membentuknya, bukan diri kita sendiri. Bila kamu terlahir memiliki penis, kamu otomatis menjadi pria, dan pria harus maskulin.

Kamu harus berpenampilan macho, tidak cengeng, bersuara tegas, ekstrovert, memiliki jiwa kepemimpinan, dan harus selalu dominan dalam berbagai hal.

On one side, that’s actually not a bad thing. Istilah maskulinitas bisa membantu membangun identitasmu di lingkungan sosial. But on the other side….


It could lead to a destructive, toxic masculinity.


Let’s face it. Di tengah lingkungan sosial yang patriakis ini, orang-orang selalu menuntut hal-hal maskulin dari seorang lelaki. Bila kamu tidak menuruti tuntutan mereka, kamu akan dicap tidak laki. Banci. Lemah.

Dari situlah “Toxic masculinity” muncul.

Istilah ini baru diterapkan pada tahun 1990an oleh pakar psikologis, Shepherd Bliss. Baginya, penggunaan istilah ini penting untuk membedakan nilai positif dan negatif dari istilah ‘maskulinitas.’

Dan ternyata benar! Shepherd melihat adanya dampak negatif dari maskulinitas yang bisa merusak hidup seorang lelaki, dan bahkan bisa menyebabkan depresi hingga bunuh diri.


Lalu, contoh kasusnya seperti apa?


Pria sulit memahami wanita, dan hubungan pertemanan antara pria dengan wanita itu hampir mustahil.

Pria jantan harus kuat, tidak boleh menunjukkan emosinya. Kecuali ketika ia marah, baru tidak apa-apa.

Pria tidak mungkin menjadi korban pelecehan seksual, kekerasan, atau pemerkosaan. Malahan, itu menjadi kesempatan untuk berhubungan seksual.

Pria pada kodratnya memang ceroboh, and boys will be boys.

Pria harus dominan dalam sebuah hubungan. Bila ia pasif, berarti ia lemah.

Pria sejati harus jadi tulang punggung keluarga. Kalau pasangan sampai ikut bekerja, ia gagal menjadi pria.

Masih banyak lagi contoh kasus toxic masculinity lainnya. Biasanya, lelaki yang tidak maskulin menjadi korban bully semasa kecilnya, entah karena penampilan, gestur tubuh feminim, atau sifatnya.

Lalu, ketika beranjak dewasa, ia akan dituntut untuk membantu keluarganya dari segi finansial. Kalau kamu menolaknya, kamu akan dicap durhaka di lingkungan keluarga. Sementara itu, kalau keinginan mereka dipenuhi, kehidupanmu akan dikuras sampai habis oleh mereka.

Ya, masalah finansial memang pelik di era modern ini. Sebagai ‘tulang punggung keluarga,’ lelaki dituntut sebagai sumber pencari nafkah, baik ketika kamu tinggal dengan keluarga atau dengan pasangan.

Terkadang, karena gengsi dan takut di-bully oleh lingkungan sosial, seorang lelaki bahkan sampai melarang pasangannya membantu mencari uang. Padahal, kita tahu hidup dengan gaji UMR saat ini saja susahnya minta ampun, apalagi di bawah UMR, atau ketika ia sudah memiliki anak.


Inilah kenapa toxic masculinity bisa menyebabkan depresi hingga bunuh diri.


Mungkin bagi banyak orang, hal-hal tadi sepele. Tapi jangan salah, stigma maskulinitas yang didukung budaya patriakis ini adalah salah satu penyebab utama depresi. Dan sudah jelas dong, depresi bisa berakhir menjadi bunuh diri.

Malahan, negara-negara barat yang masih memegang budaya patriakis seperti UK pun lebih memperhatikan bahayanya toxic masculinity.

Office for National Statistics menyatakan ada 4.383 kasus bunuh diri pada lelaki di tahun 2017. Artinya, dari 100 ribu lelaki di sekitarmu, 15.5% di antaranya telah bunuh diri dan/atau berniat bunuh diri.

Banyak, kan? Angka tadi mungkin tidak bisa kita temukan di Indonesia. Entah karena pemerintah bodo amat dengan isu ini sehingga tidak dikaji, atau lelaki di sekitarmu sulit menceritakan masalah hidupnya hingga akhirnya menanggung hidup di bawah tekanan dan depresi.

Walu begitu, ada satu hal yang harus kita akui saat ini: Maskulinitas bisa merusak hidup seseorang.

Karena itu, kita harus merangkul isu ini. Mulailah dengan mengubah persepsimu terkait maskulinitas itu sendiri.


Kita bisa menghindari toxic masculinity dan tetap maskulin.


black people toxic masculinity goodmen

Tiap orang itu unik dan berbeda, begitu juga dengan lelaki. Ada yang fenimim, ada yang fisiknya lemah, suaranya lembut, fisiknya tidak manly, dan introvert. Tidak ada yang salah dengan itu semua, jadi hargailah mereka.

Dan tidak usah malu menunjukkan emosimu. Menangis itu tidak apa, begitu juga dengan malu. Kamu tetap lelaki kok walaupun lebih ekspresif.

Ada masalah di hidupmu? Jangan dipendam, lepaskan semua beban negatifmu. Curhatlah dengan rekan kerja, sohib, keluarga, atau pasangan. Abaikan saja mereka yang mencemoohmu, siapa tahu itu juga bentuk pelarian mereka dari masalah hidupnya.

Dan sebagai sesama good-man, sepantasnya lah kita semua hidup saling bahu membahu. Bantulah kawan yang sedang depresi dan butuh teman curhat. Tetap dukung kawan-kawanmu yang di-bully di lingkungan hidupnya.

Jadikan dirimu contoh sosok lelaki maskulin yang sehat dan positif bagi dirimu sendiri dan lingkungan sekitar. Jangan sampai kamu atau orang lain termakan toxic masculinity hingga jatuh ke lubang depresi.

GoodMen Indonesia - A/n Idea, Plan, Guide & Reason to be a Goodmen